Interaktif News – Polemik pemecatan tiga guru SDIT Rabbani Kota Bengkulu saat ini tengah ramai jadi perbincangan di Bengkulu. Salah satu guru yang diberhentikan, Ustazah Ririn Safitri mengungkap secara rinci kronologis sebelum dirinya dinyatakan tidak lagi mengajar di sekolah tersebut.

Ririn merupakan satu dari tiga guru yang dipecat bersama Ustazah Elsita dan Ustazah Tita Aryani, terhitung sejak 6 Agustus 2026. Ketiganya diketahui telah lama mengabdi di SDIT Rabbani. Ustazah Elsita telah mengajar selama 13 tahun, Ustazah Tita Aryani selama 12 tahun, sementara Ririn telah mengabdi selama 5 tahun.

Menurut pengakuan Ririn, persoalan yang menimpanya diduga berkaitan dengan keikutsertaannya dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ia mengaku telah berkali-kali meminta izin untuk mengikuti program tersebut, namun izin yang diharapkan tidak diberikan.

Atas keikutsertaannya dalam PPG tanpa izin, Ririn mengaku sempat dikenakan sanksi berupa kewajiban membayar denda sebesar Rp 5 juta. Selain itu, uang sertifikasi yang seharusnya diterimanya juga disebut tidak bisa dicairkan. Namun, meski telah menerima sanksi tetap berujung pada keputusan pemecatan.

Dipanggil Lewat WhatsApp

Ririn menceritakan, awal mula dirinya mengetahui adanya keputusan tersebut terjadi pada 5 Agustus 2026. Sekira pukul 08.36 WIB, ia menerima pesan WhatsApp dari Kepala SDIT Rabbani Kota Bengkulu, Ustazah Marsu Juanah.

Dalam pesan itu, Ririn diminta untuk menghadap ke ruangan kepala sekolah

pada pukul 14.15 WIB. “Assalamuallaikum, afwan Dzah, nanti pukul 14.15 silahkan ke ruangan Ana. Syukron,” demikian isi pesan yang diterima Ririn.

Pada pukul 14.15 WIB, Ririn kemudian mendatangi ruangan kepala sekolah. Menurut pengakuannya, saat itu di dalam ruangan telah ada Kepala SDIT Rabbani Ustazah Marsu Juanah dan Pengawas Yayasan, Ustazah Endang.

Setelah dipersilakan duduk, Ririn mengaku langsung menanyakan alasan dirinya dipanggil. “Ada apa, Dzah?” tanya Ririn.

Menurut Ririn, Kepala Sekolah kemudian menyampaikan bahwa dirinya terhitung mulai 6 Agustus 2026 tidak lagi diperbolehkan datang untuk mengajar.

“Bismillahirrahmanirrahim, dengan berat hati, terhitung mulai tanggal 6 Agustus 2026 Ustazah Ririn Safitri, S.Sos., Gr., dirumahkan. Besok tidak usah datang lagi ke sekolah. Kalau Ustazah mau cari kerja di tempat lain boleh, atau mau membantu suami mengembangkan usaha,” ujar Ririn menirukan penyampaian yang diterimanya dari Kepala Sekolah.

Mendengar keputusan tersebut, Ririn mengaku sempat terdiam dan menangis. Ia kemudian mempertanyakan alasan dirinya diberhentikan dan menduga hal itu berkaitan dengan keikutsertaannya dalam PPG.

“Apa salah aku, Dzah? Apakah gara-gara PPG? Kalau gara-gara PPG, bukan hanya aku yang dipecat. Banyak teman-teman aku juga yang ikut PPG,” ujar Ririn.

Menurut pengakuannya, Kepala Sekolah kemudian menjawab, “Tidak semua, hanya Ustazah.” Jawaban itu membuat Ririn semakin mempertanyakan keputusan tersebut. Ia mengaku keberatan karena menurutnya terdapat guru lain yang

juga mengikuti PPG tanpa izin.

“Ya tidak adil kalau seperti itu, Dzah. Banyak yang ikut PPG tanpa izin, bukan hanya aku,” kata Ririn.

Menurut Ririn, Kepala Sekolah kemudian menjawab, “Adil itu tidak seperti itu.” Ririn pun kembali mempertanyakan alasan lain yang menjadi dasar dirinya diberhentikan.

“Apa lagi salah aku, Dzah, selain itu?” tanya Ririn.

Disinggung Soal Anak-anak Tiduran di Kelas

Dalam pertemuan tersebut, menurut Ririn, pihak sekolah kemudian menyinggung peristiwa saat dirinya mengajar pada masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya, Ustaz Atri.

Ririn mengaku disebut pernah membuat aturan baru di kelas dengan memperbolehkan anak-anak berbaring atau tiduran di dalam kelas.

“Waktu kepemimpinan Ustaz Atri, antum buat peraturan baru di kelas, anak-anak boleh tiduran di kelas,” demikian, menurut Ririn, pernyataan yang disampaikan kepadanya dalam pertemuan tersebut.

Menanggapi hal itu, Ririn menjelaskan bahwa persoalan tersebut sebelumnya telah ia klarifikasi atau tabayunkan kepada Ustaz Atri.

Menurut Ririn, saat kejadian tersebut, ia sedang mengajar seorang diri karena salah satu guru lainnya, Ustazah Santi, tidak masuk sekolah akibat sakit. Sejak pagi hingga menjelang Dzuhur, Ririn mengaku terus mengajar dan mendampingi para siswa.

Ketika waktu salat tiba, Ririn mengaku terlebih dahulu berkeliling mengawasi anak-anak yang sedang melaksanakan salat. “Ketika anak-anak salat, saya belum salat. Saya keliling mengawasi anak-anak salat, memastikan bacaannya benar dan gerakannya benar,” cerita Ririn.

Setelah

para siswa selesai salat, Ririn kemudian meminta mereka duduk dengan tenang karena dirinya akan melaksanakan salat. “Antum duduk dulu di kursi, Ustazah mau salat, jangan ribut,” kata Ririn kepada para siswa.

Namun, para siswa kemudian meminta izin untuk beristirahat dan berbaring karena merasa lelah, terlebih saat itu mereka sedang menjalankan ibadah puasa.

“Dzah, boleh kami istirahat rebahan? Kami capek, lagi puasa,” kata Ririn menirukan permintaan para siswanya.

Ririn mengaku kemudian mengizinkan para siswa untuk beristirahat dengan syarat tidak membuat keributan. “Boleh, tapi jangan ribut supaya Ustazah salatnya khusyuk,” ujarnya.

Usai menunaikan salat, Ririn mengaku kembali duduk di tempatnya sambil melipat mukena. Tidak lama kemudian, Ustaz Atri masuk ke dalam kelas dan melihat sejumlah siswa sedang berbaring di atas tikar.

“Kok anak-anak tidur, Dzah?” tanya Ustaz Atri, menurut penuturan Ririn.

Ririn kemudian menjelaskan bahwa saat itu dirinya baru selesai melaksanakan salat dan para siswa diberi waktu beristirahat. Setelah itu, kata Ririn, Ustaz Atri meminta dirinya menghadap ke ruangan setelah jam sekolah selesai.

Namun, menurut Ririn, peristiwa tersebut kembali disinggung dalam pertemuan pada 5 Agustus 2026 sebagai salah satu persoalan yang dikaitkan dengan dirinya.

“Iya, antum buat aturan baru,” kata Ririn menirukan pernyataan Kepala Sekolah.

Ririn pun kembali bertanya apakah masih ada alasan lain yang menjadi dasar keputusan merumahkan dirinya. “Terus

apa lagi, Dzah?” tanyanya.

Menurut pengakuan Ririn, Kepala Sekolah kemudian menyampaikan bahwa dirinya dinilai tidak mencerminkan karakter Rabbani.

“Ustazah tidak mencerminkan karakter Rabbani,” demikian pernyataan yang menurut Ririn disampaikan kepadanya.

Berakhir dengan Tangisan dan Pelukan

Setelah percakapan mengenai keputusan tersebut, suasana pertemuan disebut berlangsung emosional. Ririn mengaku Ustazah Marsu Juanah kemudian mendekatinya, mengajak bersalaman dan berpelukan sambil menangis. Dalam momen tersebut, keduanya saling meminta maaf.

“Setelah itu Ustazah Marsu mendekat kepada saya, bersalaman, berpelukan sambil menangis dan minta maaf jika ada salah. Saya juga minta maaf,” ujar Ririn.

Hal serupa juga terjadi dengan Ustazah Endang yang berada dalam ruangan tersebut. Menurut Ririn, keduanya bersalaman dan berpelukan sebelum dirinya meninggalkan ruangan.

Setelah keluar dari ruangan, Ririn kemudian mengemasi barang-barang pribadinya. Ia pun berpamitan kepada rekan-rekan guru di SDIT Rabbani.

Reporter: Irfan Arief