Gebyar Semarak Perlawanan, Foto: Dok/Banner

Interaktif News – Sejumlah pegiat lingkungan dan komunitas di Bengkulu menginisiasi kegiatan bertajuk Gebyar Semarak Perlawanan: Negara Makar Ekologis. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk menyuarakan persoalan krisis ekologis, keadilan lingkungan, serta perlindungan ruang hidup rakyat.

Masyarakat Bengkulu diajak menghadiri kegiatan tersebut yang akan berlangsung di Bharadika Education Park, Senin, mulai pukul 09.00 WIB hingga malam hari.

Salah seorang penggiat kegiatan, Oky Alex, mengatakan gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan lingkungan yang dinilai tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga menyangkut persoalan keadilan sosial dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Menurut dia, krisis ekologis tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan kerusakan hutan, pencemaran sungai, hilangnya keanekaragaman hayati, maupun perubahan iklim.

Lebih jauh, persoalan tersebut berkaitan dengan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat, ruang hidup yang aman, serta masa depan generasi mendatang.

“Ketika alam dirusak, ruang hidup dirampas, dan suara rakyat diabaikan, diam bukanlah pilihan. Solidaritas adalah bentuk perlawanan,” demikian semangat yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Oky menjelaskan, gerakan perlawanan terhadap krisis ekologis tidak harus selalu diwujudkan melalui demonstrasi maupun advokasi kebijakan.

Menurut dia, seni, kebudayaan, pengetahuan, diskusi publik, hingga solidaritas antarkomunitas juga dapat menjadi sarana membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.

Atas dasar itu, Gebyar Semarak Perlawanan dirancang sebagai ruang ekspresi, edukasi,

sekaligus konsolidasi berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.

“Sejumlah agenda telah disiapkan dalam kegiatan tersebut. Mulai dari Pawai Iklim, diskusi dan pendidikan publik, pentas seni, stand up comedy, live mural, pameran fotografi, hingga pertunjukan musik bertema Climate Justice atau keadilan iklim,” pungkas Oky.

Reporter: Deni Aliansyah Putra