Oleh: Shopy Nuranisa*

Saat ini, kemajuan di bidang teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pelajar. Hampir semua aspek pembelajaran sekarang mengandalkan internet dan gadget digital. Memang, akses menuju materi pembelajaran saat ini jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu. Hanya dengan membuka ponsel, mencari informasi yang dibutuhkan, dan berbagai jawaban bisa didapatkan secara instan. Bahkan, penjelasan yang sulit dipahami saat di kelas bisa ditemukan dalam format video atau artikel di internet.

Di satu sisi, perkembangan ini memberikan banyak keuntungan bagi siswa. Banyak pelajaran menjadi lebih jelas karena siswa bisa menggali referensi dari beragam sumber. Mereka tidak perlu hanya bergantung pada buku teks. Kadang-kadang penjelasan di dunia maya bisa lebih mudah dicerna. Terlebih dengan adanya banyak aplikasi pembelajaran yang dirancang untuk menarik perhatian, membuat siswa tidak cepat mengalami kebosanan saat belajar.

Namun, dengan meningkatnya pemakaian teknologi, perubahan perilaku mulai terlihat. Banyak pelajar saat ini cenderung menginginkan segala sesuatu dilakukan dengan cepat. Saat mendapat tugas, umumnya mereka langsung mencari jawaban di internet alih-alih memahami soal terlebih dahulu. Bahkan, seringkali mereka hanya melirik sedikit saja dan malas berpikir lebih mendalam karena yakin jawaban bisa dengan mudah ditemukan di Google.

Menurut pendapat saya, kondisi seperti ini perlahan membuat siswa kurang terlatih untuk belajar secara

mandiri. Bukan berarti memanfaatkan internet itu salah, karena teknologi hadir untuk memberikan dukungan. Namun, ketika terbiasa bergantung pada jawaban instan, siswa akhirnya lebih berfokus pada menyelesaikan tugas dibandingkan dengan memahami materi yang mereka pelajari. Tugas memang selesai, tetapi tidak ada jaminan bahwa mereka benar-benar mengerti apa yang telah dipelajari.

Jika diamati lebih mendalam, kebiasaan membaca pun telah mengalami perubahan. Dulu, siswa lebih banyak membaca buku atau mencatat informasi secara manual. Kini, banyak yang lebih memilih membaca ringkasan singkat di internet. Meskipun terasa lebih praktis, informasi yang didapat sering kali tidak komprehensif. Akibatnya, siswa lebih mudah lupa karena membaca dengan cepat tanpa benar-benar memahami inti dari pembahasannya dengan baik.

Selain itu, teknologi juga membuat perhatian belajar menjadi mudah terganggu. Awalnya mereka membuka ponsel untuk mencari materi tugas, namun akhirnya beralih ke media sosial, menonton video, atau menjelajahi berbagai hal yang sebenarnya tidak relevan. Situasi seperti ini pasti dialami oleh banyak pelajar. Dengan niat awal untuk belajar, tetapi konsentrasi mereka justru teralihkan karena semua akses ada dalam satu perangkat.

Media sosial juga berperan besar dalam mengubah kebiasaan belajar siswa masa kini. Banyak siswa lebih tertarik pada konten hiburan dibandingkan dengan membaca materi pelajaran untuk waktu yang lama. Kadang muncul rasa malas untuk belajar karena ponsel

terasa lebih menarik dibandingkan buku. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar ternyata terbuang hanya untuk scrolling di media sosial.

Meskipun demikian, teknologi tetap memberikan banyak kemudahan jika digunakan dengan bijak. Dengan adanya internet, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih fleksibel dan memperoleh informasi baru dengan lebih mudah. Bahkan, beberapa siswa mampu mengasah keterampilan mereka secara mandiri melalui video pembelajaran atau kursus online. Jadi, isu utama sesungguhnya bukan ada pada teknologinya, melainkan pada cara penggunaannya.

*Penulis adalah mahasiswa S1 Jurnalistik, Universita Bengkulu