Oleh: Helsa Verina Ophelia*

Media sosial kini bukan hanya menjadi tempat hiburan dan mencari informasi, tetapi juga perlahan berubah menjadi ruang konsultasi kesehatan bagi banyak orang. Melalui TikTok, Instagram, hingga Google, berbagai informasi mengenai kesehatan fisik maupun mental dapat diakses dengan mudah hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan tersebut juga melahirkan fenomena baru di kalangan anak muda, yaitu self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan tenaga profesional.

Fenomena ini semakin sering terlihat ketika seseorang merasa dirinya mengalami gangguan tertentu setelah menonton konten di media sosial. Tidak sedikit anak muda yang langsung menyimpulkan dirinya mengalami anxiety, depresi, ADHD, bahkan bipolar hanya karena merasa “relate” dengan gejala yang dijelaskan dalam video singkat. Padahal, kondisi kesehatan mental tidak bisa ditentukan hanya dari beberapa ciri umum yang beredar di internet.

Menurut artikel dari  Rumah Sakit Universitas Indonesia, self-diagnosis dapat menimbulkan kesalahan dalam memahami kondisi kesehatan karena informasi di internet belum tentu sesuai dengan keadaan setiap individu. Seseorang yang terlalu percaya pada hasil pencarian di internet justru bisa mengalami kecemasan berlebih dan salah mengambil langkah pengobatan.

Di satu sisi, kehadiran media sosial memang membawa dampak positif. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental meningkat dibanding beberapa tahun lalu. Topik yang sebelumnya dianggap tabu kini mulai banyak dibicarakan secara terbuka. Anak muda

menjadi lebih berani mengenali emosi dan kondisi dirinya sendiri. Namun, di sisi lain, arus informasi yang terlalu bebas juga dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Konten kesehatan di TikTok sering kali dikemas secara singkat, sederhana, dan mudah dipahami agar menarik perhatian penonton. Akan tetapi, penyederhanaan informasi tersebut dapat membuat seseorang merasa cocok dengan gejala tertentu tanpa memahami konteks medis yang sebenarnya. Akibatnya, self-diagnosis justru memunculkan overthinking hingga ketakutan terhadap kondisi yang belum tentu dialami.

Fenomena ini juga dibahas oleh  Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang menyebutkan bahwa perempuan muda lebih mudah terjebak label depresi akibat paparan konten kesehatan mental di media sosial. Banyak pengguna merasa memiliki gangguan tertentu hanya karena mengalami emosi yang sebenarnya masih tergolong normal dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, psikiater dari  RS Premier Jatinegara  menjelaskan bahwa diagnosis gangguan mental tidak bisa dilakukan secara mandiri hanya melalui media sosial. Dibutuhkan proses pemeriksaan langsung, wawancara, dan observasi oleh tenaga profesional agar diagnosis yang diberikan benar-benar akurat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi digital dan literasi kesehatan masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua informasi yang viral di media sosial dapat dijadikan acuan medis. Internet memang dapat menjadi sumber edukasi awal, tetapi bukan pengganti diagnosis profesional. Apalagi setiap individu memiliki kondisi psikologis dan fisik yang berbeda-beda.

Selain itu,

algoritma media sosial juga berperan besar dalam membentuk pola pikir pengguna. Ketika seseorang sering menonton konten kesehatan mental, algoritma akan terus menampilkan video serupa. Lama-kelamaan, pengguna dapat merasa seolah-olah dirinya benar-benar mengalami gangguan tertentu karena terus menerima informasi yang sama setiap hari. Kondisi inilah yang membuat batas antara edukasi dan sugesti menjadi semakin tipis.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, terutama terkait informasi kesehatan. Merasa memiliki gejala tertentu bukan berarti seseorang dapat langsung menyimpulkan diagnosisnya sendiri. Berkonsultasi dengan tenaga profesional tetap menjadi langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang edukasi, bukan tempat mengambil kesimpulan medis secara sepihak. Kesadaran terhadap kesehatan mental memang penting, tetapi jangan sampai awareness berubah menjadi overthinking yang justru merugikan diri sendiri.

*Penulis adalah mahasiswa program studi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu