Oleh: Siti Nur Intan Maulida*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Memang menjadi langkah pemerintah untuk meningkatkan gizi dan kesehatan  anak-anak  yang ada di seluruh Indonesia. Program ini juga dinilai baik, karena membantu siswa-siswi mendapatkan asupan makan yang layak dan membantu fokus belajar dan menjadi sehat. Namun, di balik gencarnya program tersebut, muncullah banyak pertanyaan  dari masyarakat mengenai kesejahteraan guru yang hingga kini masih di pertanyakan.

Guru memiliki peran yang  sangat penting dalam dunia pendidikan terutama untuk negara. Mereka bukan hanya bertugas  mengajar saja tetapi  membimbing, mendidik dan  membentuk karakter generasi muda menjadi generasi mudah cermerlang. Ini harus dipertanyakan kerena masih banyak guru yang hidup dengan gaji yang sangat terbatas terutama gaji, guru honorer yang hidup dengan penghasilan minim dan jauh dari kata layak. Kondisi ini sangat  memperihatikan rasa ironi ketikan anggaran besar dialokasikan untuk MBG (Makan Bergizi Gratis), sementara gaji guru dianggap belum mendapatkan pusat perhatian oleh pemerintah. Tanpa seorang guru, proses pendidikan tidak akan berjalan dengan baik dan kita akan tertinggal jauh oleh negara lain masalah pendidikan. Banyak guru yang harus mengajar penuh tanggung jawab, tetapi menerima gaji yang bahkan sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kondisi ini tentu saja menimbulkan rasa prihatin di tengah masyarakat luas.

Ketika pemerintah menggencarkan program

MBG dengan anggaran yang sangat besar, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan tentang prioritas dalam dunia pendidikan. Banyak yang merasa  bahwa perhatian terhadap seorang guru seolah kalah saing dibandingkan program-program yang lebih terlihat secara langsung di publik. Padahal, keberhasilan pendidikan tidak hanya di tentukan oleh makanan bergizi saja tetapi juga oleh kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidiknya juga. Guru yang sejahtera akan lebih fokus dan bersemangat dan juga lebih maksimal dalam menjalankan tugasnya untuk mendidik siswa dan siswinya.

Realitanya yang terjadi saat ini menunjukkan adanya ketimpangan perhatian terhadap seorang pendidikan. Di satu sisi, siswa yang memang membutuhkan asupan gizi yang baik agar dapat belajar optimal. Namun disisi lain, guru juga membutuhkan kehidupan yang layak juga agar mampu menjalan profesinya dengan tenang dan penuh dedikasi. Jika guru terus dibiarkan berjuang dengan persoalan ekonomi, maka kualitas pendidikan juga ikut sangat berdampak besar. Semangat mengajar dapat menurun kerena akibat tekanan kebutuhan  hidup semakin hari semangkin besar.

Selain itu juga sering kali juga guru itu disebut dengan ungkapan “Pahlawan Tanpa Tanda Saja” ungkapan tersebut juga menunjukkan penghormatan kepada  pengabdian seorang guru tetapi dalam kenyataannya itu hanya sebuah kata-kata saja, Banyak guru yang masih harus mencari penghasilan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan ada yang tetap bertahan mengajar bukan karena

kesejahteraan yang didapat, melainkan karena rasa tanggung jawab dan rasanya kecintaan yang besar  terhadap profesinya. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian guru sering kali tidak dibarengi dengan perhatian yang memadai dari berbagai pihak yang ada.

Melalu opini ini, saya mengajak masyarakat untuk memahami bahwa pendidikan yang baik harus dibangun secara seimbang bukan berat sebelah. Program MBG memang penting dan bermanfaat bagi siswa, tetapi juga kesejahteraan guru juga tidak boleh diabaikan. Pemerintah seharusnya mampu menjalankan di dua arah sekaligus, yaitu meningkatkan kualitas hidup siswa dan memperihatikan nasib para guru juga sebagai ujung tombak pendidikan. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas lahir dari perpaduan antara siswa yang sehat dan guru yang sejahtera.

Jikalau kesejahteraan guru terus diperbaiki, maka dampaknya sangat besar tidak hanya dirasakan oleh parah guru itu sendiri tetapi juga oleh siswa dan massa depan yang pendidikan Indonesia yang akan datang. Guru yang di hargai akan mengajar lebih stabil semangat, lebih kreatif, dan maksimal dalam membimbing generasi muda yang cermerlang. Oleh karena itu, perhatian terhadap guru bukan hanya soal gaji, tetapi juga bentuk penghargaan jasa yang besar terhadap peran yang mereka dalami untuk membangun bangsa yang sejahtera.

*Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Fisip, Universitas Bengkulu