Oleh: Disman Tono*

Beberapa tahun lalu, cafe identik dengan tempat ngobrol santai atau sekadar menikmati kopi. Namun hari ini, fungsinya berubah drastis. Bagi banyak mahasiswa dan pekerja remote, cafe telah menjadi ruang kerja kedua, tempat mencari fokus, ide, sekaligus suasana baru.

Fenomena “nugas di cafe” bukan lagi tren sementara. Laptop, headset, charger, dan secangkir kopi kini menjadi pemandangan umum hampir di setiap coffee shop modern. Banyak cafe bahkan sengaja mendesain ruang mereka agar ramah untuk laptopan: Wi-Fi cepat, colokan banyak, meja luas, dan pencahayaan nyaman.

Mengapa cafe begitu diminati untuk belajar dan bekerja? Jawabannya bukan sekadar kopi. Banyak anak muda merasa suasana cafe membantu mereka lebih produktif dibanding di rumah. Ada yang merasa lebih fokus karena melihat orang lain bekerja. Ada juga yang menganggap suasana cafe memberi “tekanan sosial positif” sehingga mereka terdorong menyelesaikan tugas.

Di sisi lain, rumah sering dipenuhi distraksi. Kasur terlalu dekat, notifikasi media sosial sulit dihindari, dan suasana monoton membuat produktivitas cepat turun. Cafe akhirnya menjadi solusi psikologis sekaligus sosial. Namun budaya ini juga melahirkan pertanyaan baru: apakah kita benar-benar lebih produktif di cafe, atau hanya merasa produktif?

Tidak sedikit orang datang ke cafe demi estetika semata. Foto laptop dan kopi diunggah ke Instagram, tetapi tugas tak kunjung selesai. Produktivitas berubah

menjadi gaya hidup visual.

Meski begitu, tren ini tetap menunjukkan perubahan besar cara generasi muda memandang ruang kerja. Mereka tidak lagi terikat pada kantor atau perpustakaan. Fleksibilitas menjadi kebutuhan baru.

Cafe hari ini bukan sekadar bisnis kopi. Ia telah berubah menjadi ruang sosial modern tempat ide, pekerjaan, dan kreativitas bertemu.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu