Oleh: Rizky Akbar Hermanto*

Di tengah gempuran tren fast fashion dan gaya hidup serba instan, anak muda justru menghadirkan cara baru dalam memandang dunia fashion. Jika dulu pakaian bermerek dan serba baru dianggap sebagai simbol keren, kini sebagian Generasi Z mulai mengubah pandangan tersebut lewat budaya thrifting. Barang bekas yang dulu sering dipandang sebelah mata sekarang justru menjadi bagian dari gaya hidup modern anak muda.

Fenomena thrifting semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Kehadirannya semakin kuat sejak media sosial dipenuhi konten anak muda berburu pakaian bekas di pasar thrift, toko vintage, hingga live shopping online. Banyak anak muda merasa thrifting bukan hanya soal membeli pakaian murah, tetapi juga tentang menemukan identitas dan gaya yang unik. Tidak sedikit pula yang merasa lebih percaya diri ketika memakai pakaian yang berbeda dari tren pasaran.

Dalam artikel di Kompasiana disebutkan bahwa thrifting menjadi pilihan Gen Z karena dianggap mampu menghadirkan gaya unik, hemat, sekaligus lebih ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa tren thrifting bukan lagi sekadar mengikuti mode, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda masa kini.

Generasi Z tampaknya mulai bosan dengan konsep fashion yang seragam. Mereka tidak lagi terlalu terpaku pada merek mahal atau pakaian terbaru yang terus berganti mengikuti tren. Thrifting hadir sebagai

alternatif yang dianggap lebih bebas dan personal. Dari jaket vintage, kaus band lawas, hingga celana oversized, semua menjadi bagian dari ekspresi diri anak muda.

Selain faktor gaya, alasan ekonomi juga menjadi penyebab thrifting semakin diminati. Harga pakaian baru yang terus meningkat membuat banyak anak muda mencari pilihan yang lebih terjangkau. Dengan uang yang relatif sedikit, mereka tetap bisa tampil menarik tanpa harus memaksakan diri mengikuti gaya hidup konsumtif. Dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, thrifting menjadi pilihan yang terasa realistis bagi pelajar dan mahasiswa.

Referensi lain dari  Kubu.id juga menyoroti bagaimana budaya thrifting berkembang pesat di kalangan anak muda karena dipengaruhi media sosial dan tren fashion yang terus berubah. Media sosial membuat pakaian thrift terlihat lebih menarik, estetik, dan relevan dengan gaya hidup Gen Z saat ini.

Namun, tren thrifting tidak hanya berhenti pada urusan penampilan. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa industri fast fashion turut menghasilkan limbah tekstil yang besar dan berdampak pada lingkungan. Kesadaran ini membuat sebagian Generasi Z melihat thrifting sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan karena pakaian lama dapat digunakan kembali dan tidak langsung menjadi sampah. Meski sederhana, pola pikir seperti ini menunjukkan bahwa anak muda mulai lebih peduli terhadap isu keberlanjutan.

Meski demikian, tren thrifting juga perlu disikapi secara

bijak. Jangan sampai budaya yang awalnya identik dengan hidup hemat dan ramah lingkungan justru berubah menjadi ajang konsumtif baru. Saat ini tidak sedikit orang membeli pakaian thrift hanya demi mengikuti tren media sosial tanpa benar-benar membutuhkan barang tersebut. Jika hal itu terjadi, maka makna sederhana dari thrifting bisa perlahan hilang.

Pada akhirnya, thrifting menunjukkan bahwa definisi “keren” di mata Generasi Z mulai berubah. Keren tidak lagi selalu identik dengan barang mahal dan serba baru. Bagi sebagian anak muda, keren adalah tentang keberanian menunjukkan gaya sendiri, hidup lebih hemat, dan mulai peduli terhadap lingkungan sekitar. Lewat thrifting, Generasi Z sedang membuktikan bahwa fashion tidak hanya soal penampilan, tetapi juga tentang cara berpikir dan nilai yang mereka percaya.

*Penulis adalah mahasiswa program studi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu