Oleh: Ana Maria Utami

Banjir yang kembali terjadi di Kota Bengkulu seharusnya menjadi pengingat serius bagi semua pihak, terutama pemerintah daerah, bahwa persoalan lingkungan dan tata kota tidak bisa terus dianggap sebagai masalah biasa. Hampir setiap tahun masyarakat dihadapkan pada situasi yang sama: rumah terendam air, aktivitas ekonomi dan pendidikan terganggu, jalan-jalan rusak, hingga warga yang terpaksa mengungsi demi keselamatan keluarga mereka.

Masyarakat tentu lelah jika setiap musim hujan selalu dihantui rasa khawatir. Banyak warga bertanya, sampai kapan banjir ini akan terus berulang tanpa solusi yang benar-benar nyata? Jangan sampai penanganan hanya ramai dilakukan ketika banjir datang, lalu setelah air surut semuanya kembali dilupakan hingga bencana berikutnya terjadi.

Kita memahami bahwa curah hujan yang tinggi memang menjadi salah satu penyebab utama banjir. Namun di sisi lain, kondisi drainase yang buruk, penyempitan aliran sungai akibat sedimentasi, maraknya pembangunan yang mengurangi daerah resapan air, serta minimnya pengawasan terhadap lingkungan juga turut memperparah keadaan. Persoalan ini bukan semata-mata bencana alam, melainkan juga berkaitan erat dengan bagaimana tata kelola wilayah dan perencanaan pembangunan dijalankan.

Pemerintah perlu lebih serius melakukan langkah-langkah pencegahan jangka panjang, bukan hanya fokus pada pemberian bantuan darurat setelah banjir terjadi. Program normalisasi sungai, pembangunan dan

perbaikan drainase, penghijauan kawasan resapan, hingga penataan wilayah yang rawan banjir harus benar-benar menjadi prioritas pembangunan daerah.

Selain itu, persoalan banjir tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan wilayah perkotaan yang semakin pesat. Banyak lahan terbuka yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi kawasan permukiman, pertokoan, maupun bangunan komersial lainnya. Jika pembangunan tidak disertai kajian lingkungan yang matang, maka kemampuan tanah untuk menyerap air akan terus berkurang. Akibatnya, air hujan yang turun dalam jumlah besar tidak memiliki tempat untuk meresap dan akhirnya menggenangi kawasan permukiman warga.

Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap sistem tata ruang kota. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap pembangunan baru memperhatikan aspek lingkungan dan mitigasi bencana. Jangan sampai izin pembangunan diberikan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap sistem drainase maupun keseimbangan ekosistem. Perencanaan kota yang baik seharusnya mampu mengantisipasi risiko banjir, bukan justru memperbesar potensi terjadinya bencana di masa mendatang.

Di sisi lain, transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran penanggulangan banjir juga perlu mendapat perhatian. Masyarakat berhak mengetahui sejauh mana program pengendalian banjir telah dilaksanakan dan apa hasil yang telah dicapai. Jika setiap tahun anggaran terus dialokasikan tetapi banjir tetap menjadi masalah yang berulang, maka evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program tersebut menjadi hal yang

sangat penting. Pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan masyarakat agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Tidak kalah penting, edukasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Kesadaran lingkungan merupakan salah satu kunci dalam mengurangi risiko banjir. Masih ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan ke selokan, sungai, maupun saluran drainase yang pada akhirnya menyebabkan penyumbatan aliran air. Upaya menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, hingga dunia usaha agar tercipta budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sekitar. Jika semua pihak hanya saling menyalahkan tanpa mau melakukan perubahan, maka banjir akan terus menjadi persoalan tahunan di Bengkulu. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menciptakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Harapan masyarakat sebenarnya sederhana, yaitu dapat hidup dengan aman dan tenang tanpa harus takut rumah mereka kembali terendam setiap kali hujan deras turun. Banjir yang terus berulang bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai hal biasa. Sudah saatnya semua pihak menjadikan persoalan ini sebagai agenda prioritas bersama. Sebab keberhasilan mengatasi banjir bukan hanya soal mengurangi genangan air, tetapi juga tentang melindungi keselamatan warga, menjaga aktivitas ekonomi, serta mewujudkan

kualitas hidup masyarakat Bengkulu yang lebih baik di masa depan.

*Penulis adalah Mahasiswa S1 Jurnalistik, Universitas Bengkulu