Interaktif News – Kondisi Hutan Lindung (HL) Bukit Daun yang membentang di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Lebong, hingga Bengkulu Tengah kini kian memprihatinkan.

Kawasan yang selama ini menjadi penopang utama sistem tata air bagi masyarakat Bengkulu tersebut terus mengalami penyusutan akibat aktivitas perambahan ilegal yang semakin masif dan terstruktur.

Dari hasil penelusuran di lapangan, pola perambahan kini menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya lebih didorong oleh kebutuhan ekonomi masyarakat kecil, saat ini aktivitas tersebut cenderung bergeser menjadi praktik komersialisasi lahan dalam skala yang lebih luas.

Dengan metode “tebang dan bakar”, kawasan hutan primer perlahan diubah menjadi lahan perkebunan, terutama sawit. Proses ini umumnya dimulai dari wilayah perbatasan permukiman dan terus merangsek hingga ke bagian punggung bukit.

Seorang sumber dari desa penyangga, Minggu, (05/04/26), mengungkapkan bahwa praktik ilegal tersebut bahkan telah berkembang menjadi ajang spekulasi lahan.

“Sekarang bukan lagi sekadar untuk bertahan hidup. Ada yang membuka hutan, menanam, lalu setelah beberapa tahun lahannya dijual secara diam-diam kepada pihak lain,” ujarnya.

Aktivitas ini diduga melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat lokal hingga pemodal dari luar daerah yang memanfaatkan tenaga kerja untuk membuka lahan secara sistematis.

Ironisnya, muncul pula klaim kepemilikan atau alas hak atas lahan di dalam kawasan hutan lindung yang kemudian dijadikan dasar untuk transaksi ilegal kepada pihak ketiga.

Dampak

kerusakan lingkungan mulai dirasakan. Penurunan debit air sungai, serta meningkatnya potensi longsor dan banjir bandang, menjadi ancaman nyata bagi desa-desa di sekitar kawasan.

Di sisi lain, upaya penertiban yang dilakukan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Provinsi Bengkulu masih menghadapi berbagai kendala, terutama luasnya wilayah pengawasan yang tidak sebanding dengan jumlah personel yang tersedia.

Kepala KPHL Bukit Daun Provinsi Bengkulu, Yudi Riswanda, menyampaikan apresiasinya atas perhatian masyarakat terhadap kondisi hutan. Ia juga berencana membuka ruang dialog dengan seluruh stake holder untuk memperkuat sinergi pengawasan kawasan hutan.

“Terima kasih atas kepedulian kita bersama dalam menjaga kawasan hutan. Semoga kedepan kita bisa berdiskusi lebih lanjut di kantor,” tulisnya melalui pesan WhatsApp, Senin, (6/4/26). ***