Di Bengkulu, perkebunan sawit tampaknya lebih sering dipanen sebagai bahan konflik ketimbang diakui sebagai penggerak ekonomi. Setiap bicara sawit, daftar masalah segera dibentangkan: konflik agraria, sengketa lahan, hingga kerusakan lingkungan. Semuanya penting, tentu saja. Namun, ketika bicara lapangan kerja, pendapatan petani, dan perputaran ekonomi desa, mendadak banyak yang kehilangan suara. Seolah-olah Perkebunan sawit hanya punya dosa, tanpa pernah berjasa.

Padahal, di balik hamparan perkebunan, ada petani yang membiayai sekolah anaknya, buruh yang menerima upah, sopir yang mengangkut hasil panen, serta pedagang dan pemilik warung yang ikut menikmati perputaran uang. Bagi banyak keluarga di Bengkulu, sawit bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan. Ironis jika manfaat sebesar itu kalah pamor dari spanduk yang bertuliskan segudang persoalan.

Tentu, bukan berarti perusahaan selalu benar. Perusahaan yang melanggar hukum harus ditindak, hak masyarakat dilindungi, dan kerusakan lingkungan ditangani. Namun, kesalahan sebagian pelaku tidak semestinya menjadi vonis bagi seluruh sektor perkebunan.

Belakangan, yang katanya pegiat masyarakat sipil begitu tekun menghitung konflik, tetapi jarang memberi perhatian yang sama pada masyarakat yang hidup dari perkebunan. Jangan sampai konflik menjadi panggung utama, sementara solusi hanya kebagian peran figuran. Spanduk selalu siap, solusi entah kapan tiba. Jangan-jangan, konflik memang lebih menguntungkan sebagai panggung daripada penyelesaian sebagai tujuan.

Bengkulu tidak membutuhkan pembelaan membabi buta terhadap

perusahaan, tetapi juga tidak membutuhkan penolakan membabi buta terhadap sawit. Yang diperlukan ialah penegakan hukum yang adil, perlindungan lingkungan, dan pengakuan jujur atas kontribusi perkebunan terhadap ekonomi masyarakat.

Sebab, pembangunan bukan perlombaan mencari siapa yang paling banyak menemukan kesalahan. Ada pekerjaan yang tercipta, pendapatan yang berputar, dan keluarga yang menggantungkan masa depannya pada sektor ini. Ketika spanduk dilipat dan pengeras suara dimatikan, kebutuhan hidup masyarakat tetap menyala.

Perusahaan perkebunan sawit boleh dikritik, pelanggaran wajib ditindak. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk memanen konflik hingga lupa menghitung manfaat. Sebab, keadilan bukan hanya soal berani menunjuk kesalahan, tetapi juga bersedia melihat kenyataan.

Redaksi