Oleh: Qayla Putri Sahaja*

Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kampus, mengikuti kuliah, lalu pulang. Perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat membuat mahasiswa dituntut memiliki banyak kemampuan sekaligus. Tidak cukup hanya pintar secara akademik, mahasiswa juga diharapkan aktif berorganisasi, mampu berkomunikasi dengan baik, menguasai teknologi digital, hingga memiliki pengalaman kerja sejak masih kuliah.

Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kampus, mengikuti kuliah, lalu pulang. Perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat membuat mahasiswa dituntut memiliki banyak kemampuan sekaligus. Tidak cukup hanya pintar secara akademik, mahasiswa juga diharapkan aktif berorganisasi, mampu berkomunikasi dengan baik, menguasai teknologi digital, hingga memiliki pengalaman kerja sejak masih kuliah.

Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa tertinggal apabila belum memiliki pencapaian yang sama. Padahal, setiap orang memiliki proses dan kemampuan yang berbeda. Media sosial sering kali hanya memperlihatkan keberhasilan seseorang tanpa menunjukkan proses panjang dan tekanan yang mereka alami

Selain pengaruh media sosial, tuntutan dunia kerja juga menjadi alasan mengapa mahasiswa merasa harus memiliki banyak kemampuan. Saat ini perusahaan tidak hanya melihat nilai akademik, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta keterampilan di bidang digital. Kondisi tersebut membuat mahasiswa berlomba-lomba mengikuti berbagai kegiatan agar dianggap siap menghadapi

dunia kerja setelah lulus.

Di satu sisi, tuntutan ini memang membawa dampak positif. Mahasiswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan terbiasa mengembangkan diri. Mereka belajar bekerja sama, menyelesaikan masalah, hingga membangun relasi yang nantinya berguna di dunia pekerjaan. Pengalaman seperti itu sering kali tidak didapatkan hanya dari pembelajaran di kelas.

Namun di sisi lain, tekanan untuk menjadi “serba bisa” juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental mahasiswa. Banyak mahasiswa kelelahan karena harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, pekerjaan sampingan, dan kegiatan lainnya. Tidak sedikit yang akhirnya merasa cemas dan takut dianggap tidak berkembang jika tidak mengikuti banyak aktivitas.

Menurut saya, kondisi ini perlu disikapi dengan lebih bijak. Mahasiswa memang harus berkembang mengikuti zaman, tetapi bukan berarti harus sempurna dalam segala hal. Setiap mahasiswa memiliki minat, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Ada yang unggul di bidang akademik, ada yang lebih menonjol dalam organisasi, dan ada pula yang berbakat di bidang kreatif maupun teknologi.

Karena itu, mahasiswa seharusnya tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Fokus terhadap pengembangan diri sesuai kemampuan dan tujuan pribadi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar pengakuan sosial. Menjadi mahasiswa yang baik bukan berarti harus mampu melakukan semuanya, melainkan mampu memahami potensi diri dan terus berkembang secara sehat.

Kampus juga memiliki peran penting

dalam menghadapi fenomena ini. Lingkungan pendidikan seharusnya tidak hanya menuntut prestasi, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa. Dukungan dari dosen, teman, dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar mahasiswa dapat berkembang tanpa merasa tertekan secara berlebihan.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa di era sekarang memang penuh tantangan. Tuntutan untuk menjadi serba bisa tidak bisa dihindari, tetapi mahasiswa tetap perlu menjaga keseimbangan antara pencapaian dan kesehatan diri. Sebab, keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa banyak hal yang bisa dilakukan, melainkan dari bagaimana seseorang mampu berkembang tanpa kehilangan dirinya sendiri

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Jurnalistik, Universitas Bengkulu