Oleh: Joe Rasya Ridho Pratama*

Perkembangan teknologi digital sekarang telah banyak mengubah kebiasaan mahasiswa secara drastis. Mahasiswa hari ini hidup di era serba cepat: materi kuliah dapat diakses melalui internet, tugas bisa diselesaikan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), dan diskusi akademik berpindah dari ruang kelas ke layar hp. Digitalisasi memang membawa kemudahan, tetapi di balik kepraktisan tersebut muncul pertanyaan penting? apakah proses belajar mahasiswa kini semakin efektif, atau justru semakin dangkal?

Fenomena ini semakin terlihat di lingkungan perkuliahan saat ini. Banyak mahasiswa lebih memilih mencari ringkasan materi di TikTok, YouTube Shorts, atau AI dibanding membaca buku dan jurnal secara utuh. Budaya “instan” perlahan membentuk pola belajar yang hanya berpatokan pada hasil yang cepat, bukan pemahaman yang mendalam. Tidak sedikit pula mahasiswa yang mengandalkan copy-paste, rangkuman otomatis, bahkan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami isi pembahasannya.

Data dari berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital di kalangan mahasiswa meningkat tajam dari pandemi COVID-19. Akses informasi memang menjadi lebih luas, tapi kemampuan membaca panjang, berpikir kritis, dan menganalisis malah mengalami penurunan. Banyak dosen mengeluhkan mahasiswa yang aktif secara digital tetapi lemah dalam diskusi langsung dalam akademik. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kualitas pembelajaran.

Masalah utama dalam kuliah di

era digital bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara mahasiswa menggunakannya. Teknologi seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan mengganti proses berpikir. Ketika mahasiswa terlalu bergantung pada internet dan belajar yang instan, mereka kehilangan kebiasaan membaca, meneliti, dan mengolah sendiri.

Akibatnya, proses akademik menjadi dangkal dan hanya fokus dengan hasil yang instan.
Selain itu, media sosial juga memengaruhi cara belajar mahasiswa. Notifikasi tanpa henti, konten hiburan, dan budaya scrolling membuat fokus belajar semakin pendek. Banyak mahasiswa kesulitan membaca materi dalam waktu lama karena sudah terbiasa dengan informasi singkat dan cepat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.

besar bagi pendidikan untuk berkembang lebih modern dan fleksibel. Yang dibutuhkan adalah kemampuan literasi digital dan kesadaran akademik. Mahasiswa perlu memahami bahwa AI, internet, dan media sosial hanyalah alat bantu, bukan jalan pintas untuk menghindari proses belajar.

Namun, digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditolak. Era digital justru membuka peluang Solusi yang dapat ditawarkan adalah membangun budaya akademik yang lebih kritis dan seimbang. Kampus perlu mendorong mahasiswa untuk tetap aktif membaca buku, berdiskusi, dan melakukan riset mandiri meskipun teknologi semakin canggih. Dosen juga dapat mengubah metode pembelajaran menjadi lebih interaktif agar mahasiswa tidak hanya bergantung pada

tugas formal. Selain itu, edukasi tentang etika penggunaan AI dalam dunia akademik perlu diperkuat agar teknologi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, kuliah di era digital memang menawarkan kecepatan dan kepraktisan. Namun, pendidikan tidak seharusnya hanya tentang hasil yang cepat, melainkan juga proses berpikir yang matang. Jika mahasiswa terlalu terlena dengan budaya instan, maka kualitas pemahaman akan semakin menurun. Teknologi dapat membantu manusia belajar lebih mudah, tetapi kedalaman ilmu tetap ditentukan oleh kemauan untuk berpikir, membaca, dan memahami.

*Penulis adalah mahasiswa S1 Jurnalistik, Universitas Bengkulu