Oleh: Salsabila Agustia*

Kuliner tradisional di Indonesia mulai kehilangan penggemar dikarenakan zaman yang mengikuti arus perkembangan mungkin terlihat sederhana di mata sebagian orang.

Namun, di balik kuliner tradisional sederhana itu merupakan bagian dari warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi, tetapi juga merepresentasikan identitas kolektif suatu masyarakat. Karena kuliner tradisional memiliki simbol yang mencerminkan sejarah, nilai-nilai, dan praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Saat ini merebaknya makanan asing yang siap saji, telah menggeser selera publik Terhadap kuliner tradisional. Kuliner tradisional sebagai produk budaya terkait dengan produk kearifan lokal mestinya perlu dijaga kelestariannya juga strategi pemasarannya agar bisa berkembang.

Gudeg telah dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya sebagai makanan khas dari Kota Yogyakarta. Makanan ikonik ini terbuat dari nangka muda yang dimasak berjam-jam dengan santan dan rempah, hingga menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa manis yang khas. Gudeg biasanya disajikan dengan nasi, ayam kampung, telur rebus, tahu, dan sambal krecek—kulit sapi yang dimasak pedas dengan santan. Gudeg mempunyai dua varian utama: gudeg basah yang masih berkuah, dan gudeg kering yang lebih pekat dan tahan lama.

Keraton Yogyakarta punya pengaruh besar dalam membentuk identitas kuliner Jogja. Dalam tradisi keraton, makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga simbol status dan filosofi hidup.  Rasa manis pada gudeg

ini menjadi ciri khas yang menunjukkan keanggunan dan kemewahan.

Sudah saatnya kita ikut bergerak ambil bagian untuk melestarikan makanan-makanan lokal tradisional hasil warisan nenek moyang bangsa ini. Upaya-upaya yang kita lakukan akan membuat makanan tradisional mampu bersaing dalam dunia global. Melakukan berbagai inovasi baru dalam menyajikan olahan makanan tradisional dan mengenalkan kepada publik yang lebih luas.

Untuk itu, upaya promosi terus menerus baik melalui publikasi jejaring umum atau dunia maya perlu dilakukan secara masif. Di samping itu semua pihak perlu memberi contoh dalam kehidupan kesehariannya untuk selalu menumbuhkan rasa bangga dan cinta kepada hasil karya bangsa ini. Tak ketinggalan memberi contoh dalam mengonsumsi makanan-makanan tradisional dengan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengenal makanan tradisional secara lebih intensif.

*Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Universitas Bengkulu