Oleh : Kayla Audyalova Ramadhany*

Media sosial perlahan mengubah cara banyak orang memandang dirinya sendiri. Di tengah arus konten yang menampilkan wajah sempurna, tubuh ideal, gaya hidup estetik, dan pencapaian di usia muda, tidak sedikit anak muda tumbuh dengan standar yang terasa semakin sulit dijangkau.

Saat ini, membuka media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu dengan scrolling Instagram atau TikTok sejak bangun tidur hingga sebelum tidur kembali. Media sosial memang memberi banyak hal seperti hiburan, inspirasi, informasi, bahkan motivasi. Namun di balik itu, media sosial juga menghadirkan tekanan sosial yang sering kali tidak disadari.

Bagi banyak perempuan muda, media sosial dapat menjadi ruang yang memunculkan perasaan membandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang seusia yang tampak lebih menarik, lebih produktif, atau terlihat memiliki hidup yang lebih tertata perlahan membuat sebagian orang merasa tertinggal. Perasaan tersebut muncul bukan karena benar-benar kurang, melainkan karena terlalu sering melihat versi terbaik kehidupan orang lain.

Standar yang muncul di media sosial pun semakin tidak realistis. Cantik harus putih, tubuh harus ideal, hidup harus selalu produktif, serta pencapaian harus diraih di usia muda. Seolah-olah semua orang dituntut untuk terlihat sempurna dalam satu waktu. Padahal, apa yang tampil di media sosial sering kali hanyalah

potongan kecil yang sudah dipilih dan disusun sedemikian rupa.

Tekanan tersebut sering kali membuat banyak anak muda merasa harus terus mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal. Akibatnya, media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga menjadi tempat munculnya kecemasan, rasa tidak percaya diri, hingga kelelahan mental karena terus merasa harus memenuhi ekspektasi orang lain.

Fenomena ini juga dibahas oleh The Cybersmile Foundation (2023) yang menjelaskan bahwa kebiasaan melakukan social comparison di media sosial dapat memengaruhi cara Gen Z memandang dirinya sendiri. Sementara itu, RRI (2024) menyoroti bahwa tekanan sosial di media digital menjadi salah satu penyebab meningkatnya rasa insecure pada anak muda.

Di Indonesia sendiri, standar kecantikan terus berkembang mengikuti tren media sosial. Akibatnya, banyak perempuan muda merasa harus memenuhi ekspektasi tertentu agar dianggap menarik atau “cukup”. Tanpa disadari, media sosial membuat banyak orang lebih sibuk mengejar validasi dibanding memahami dirinya sendiri.

Meski demikian, saya melihat bahwa media sosial bukan sepenuhnya hal yang buruk. Media sosial tetap dapat menjadi ruang untuk belajar, berkembang, dan menemukan inspirasi. Persoalannya terletak pada bagaimana seseorang memaknai apa yang dilihat di layar. Tidak semua yang terlihat indah di internet mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Karena itu, penting untuk mulai membangun kesadaran bahwa hidup bukan sebuah kompetisi. Setiap orang memiliki proses,

waktu, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat tertinggal di mata orang lain belum tentu berarti gagal. Begitu pula sebaliknya, kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial belum tentu benar-benar tanpa masalah.
Di tengah dunia digital yang terus memproduksi standar tanpa akhir, mungkin hal yang paling penting adalah belajar menerima diri sendiri tanpa terus merasa harus menjadi seperti orang lain. Sebab pada akhirnya, menjadi “cukup” untuk diri sendiri jauh lebih berarti dibanding terus mengejar kesempurnaan yang tidak pernah benar-benar ada.

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu.