Oleh: Lulu Anisa*

Di kehidupan kampus sekarang, mahasiswa bukan cuma dituntut untuk belajar di kelas, tetapi juga dituntut aktif dalam berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan yang paling banyak diminati mahasiswa adalah organisasi kampus. Banyak mahasiswa ikut organisasi karena ingin menambah pengalaman, melatih kemampuan berbicara, memperluas relasi, sampai belajar menjadi pemimpin. sedikit juga yang merasa organisasi bisa menjadi bekal penting untuk dunia kerja kelak.

Fenomena mahasiswa aktif organisasi sebenarnya merupakan hal yang positif. Kampus juga sering mendukung mahasiswa agar aktif dalam kegiatan di luar karena dianggap dapat membentuk karakter dan kemampuan sosial. Mahasiswa yang ikut organisasi biasanya lebih berani berbicara di depan umum, dan lumayan tidak gugup,dan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Namun, di balik hal positif tersebut, ada masalah yang cukup sering terjadi, yaitu mahasiswa terlalu fokus pada organisasi sampai lupa dengan akademik. Banyak mahasiswa yang akhirnya lebih sibuk mengurus rapat, acara, dan kepanitiaan dibanding mengerjakan tugas kuliah sekalipun.Bahkan ada yang lebih sering hadir dalam kegiatan organisasi daripada hadir di kelas.

Fenomena seperti ini sekarang cukup sering terlihat di lingkungan kampus. Apalagi di zaman digital seperti sekarang, semua kegiatan organisasi bisa dilakukan kapan saja melalui grup WhatsApp, Zoom, Telegram, atau media sosial yang lain. Komunikasi organisasi jadi tidak mengenal waktu. Pagi ada chat

rapat, malam ada revisi proposal, belum lagi koordinasi acara yang sering menghabiskan waktu sampai larut malam. Akibatnya, mahasiswa menjadi sulit membagi fokus antara organisasi dan kuliah.

Berdasarkan data APJII tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai lebih dari 220 juta orang. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa, sangat dekat dengan teknologi digital. Kehidupan mahasiswa sekarang hampir tidak bisa lepas dari internet. Semua aktivitas berjalan cepat dan serba online, termasuk kegiatan organisasi kampus. Hal inilah yang membuat mahasiswa bisa terus terhubung dengan urusan organisasi selama 24 jam.

Akibat terlalu sibuk organisasi, banyak mahasiswa mulai mengalami penurunan akademik. Ada yang sering terlambat mengumpulkan tugas, jarang masuk kelas, tidak fokus saat belajar, sampai nilainya menurun. Bahkan ada mahasiswa yang akhirnya mengulang mata kuliah karena tidak mampu membagi waktu dengan baik.

Masalah ini sebenarnya bukan karena organisasinya buruk. Organisasi tetap memiliki banyak manfaat untuk mahasiswa. Yang menjadi masalah adalah ketika mahasiswa tidak bisa mengatur prioritas dan waktu dengan baik. Ada mahasiswa yang terlalu ingin terlihat aktif dan dikenal banyak orang sampai lupa bahwa tujuan utama kuliah adalah untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan.

Kadang juga ada rasa gengsi di kalangan mahasiswa. Sebagian mahasiswa merasa lebih keren jika aktif organisasi dibanding hanya fokus kuliah. Akhirnya, mereka

lebih bangga dikenal sebagai aktivis kampus daripada mahasiswa yang berprestasi secara akademik. Padahal, keduanya sebenarnya bisa berjalan seimbang jika dijalani dengan benar.

Menurut saya, mahasiswa harus mulai memahami bahwa organisasi dan akademik samasama penting. Organisasi memang memberikan pengalaman berharga, tetapi akademik tetap menjadi tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Jangan sampai terlalu sibuk di luar sampai lupa dengan tugas utama di kampus.

Mahasiswa yang baik bukan berarti harus memilih salah satu antara organisasi atau akademik. Justru mahasiswa yang hebat adalah mahasiswa yang mampu menjalankan keduanya dengan seimbang. Aktif organisasi boleh, tetapi jangan sampai membuat nilai hancur atau kuliah terbengkalai.

Untuk mengatasi masalah ini, mahasiswa perlu belajar mengatur waktu dengan baik. Misalnya membuat jadwal harian, menentukan prioritas, dan tahu kapan harus fokus belajar dan kapan fokus organisasi. Mahasiswa juga harus berani menolak kegiatan organisasi yang terlalu berlebihan jika memang sudah mengganggu kuliah.

Selain itu, organisasi kampus juga sebaiknya memahami kondisi anggotanya. Jangan sampai kegiatan organisasi terlalu memaksa anggota dan membuat mereka kehilangan waktu istirahat atau belajar. Organisasi seharusnya menjadi tempat berkembang, bukan malah membuat anggotanya kewalahan.

Pihak kampus juga memiliki peran penting dalam masalah ini. Kampus bisa memberikan pembinaan atau pengarahan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan organisasi dan akademik. Dosen dan pembimbing akademik juga bisa membantu

mahasiswa agar tidak kehilangan fokus dalam kuliah.

Di zaman digital sekarang, mahasiswa memang dituntut untuk aktif, kreatif, dan memiliki banyak pengalaman. Tapi semua itu harus tetap dibarengi dengan tanggung jawab terhadap pendidikan. Jangan sampai terlalu sibuk mengejar pengakuan di organisasi sampai lupa sama masa depan akademik sendiri.

Pada akhirnya, organisasi bukanlah alasan untuk lalai dalam kuliah. Organisasi dan akademik sebenarnya bisa berjalan bersama jika mahasiswa mampu mengatur diri dengan baik. Aktif organisasi adalah hal yang bagus, tetapi tetap harus tahu batas dan prioritas.

Jadi, menurut saya, mahasiswa aktif organisasi namun lalai akademik adalah fenomena yang nyata terjadi saat ini. Hal tersebut bukan sepenuhnya salah organisasi, tetapi lebih kepada cara mahasiswa mengatur waktu dan tanggung jawabnya. Mahasiswa harus sadar bahwa     pengalaman organisasi memang penting, tetapi pendidikan tetap menjadi tujuan utama selama berada di bangku kuliah.

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik, Universitas Bengkulu