Oleh: Enjel Lina Meyneka*

“Apa ada yang ingin menambahkan?” Pertanyaan seperti ini bukannya mendapat jawaban kritis dari seorang mahasiswa yang memahami materi pembelajaran hari itu dengan baik malah sebaliknya, yaitu hening. Tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan tersebut selayaknya seorang mahasiswa. Memang ada beberapa yang aktif namun bisa di hitung dengan jari, satu sampai dua orang saja, terlalu banyak jika disebut tiga. Namun, mahasiswa yang banyak diam itu tidak sepenuhnya mereka tidak tau, jelas mereka mempunyai opini sendiri. Hanya saja mereka lebih memilih diam, karena terlalu takut salah. Fenomena ini semakin umum dan terkesan di normalisasi di lingkungan kampus.

Seringkali mahasiswa yang diam di kelas seperti itu lebih aktif di sosial media, aktif berkomentar di postingan lambe turah, di postingan tiktok yang menurut mereka parasnya menarik, sehingga yang terjadi adalah keberanian mereka sebatas di sosial media namun tak berlaku di dunia nyata. Karena berpendapat di sosial media itu mempunyai waktu berpikir sebelum menulis komentar bahkan dapat di hapus atau di edit jika mereka merasa argumennya kurang. Sedangkan di kelas mereka mendapatkan banyak pressure, tentu di lingkungan mahasiswa sendiri apabila ada temannya yang salah akan di soraki, dan langsung di nilai dosen saat itu juga sehingga tak bisa di edit apa

yang sudah dikatakan spontan.

Selain itu juga, banyak mahasiswa yang terbiasa menjadi seorang penonton, terbiasa dengan budaya menerima. Mereka lebih sering scrolling daripada melihat orang lain berbicara langsung, dan yang paling sering adalah mereka terlalu banyak membaca opini orang lain sehingga terbiasa menjadi bungkam. Sehingga hal seperti ini lah yang menjadi pemicu mahasiswa pasif.

Namun, penyebab mahasiswa yang banyak takutnya itu karena sebelum mengemukakan pendapat selalu ada rasa kurang. Bisa jadi pendapat mereka itu konyol sehingga ditertawakan dengan teman sekelas, dan selalu merasa tertinggal jauh dengan teman yang selalu aktif menjawab jadi merasa kurang pintar dan tidak percaya diri apa yang mereka pikirkan, dan yang paling sering terjadi adalah selalu overthinking duluan sebelum memulai berbicara sehingga yang terjadi berkelahi dengan asumsi sendiri. Lalu, kondisi ruangan kelas yang tegang dan suasana yang terlalu formal dengan dosen yang terlalu dominan dan menguasai kelas sehingga mahasiswa takut ketika berbicara akan dipotong dan menjadi perdebatan panjang yang mana bisa bisa disalahkan, bahkan bisa dianggap remeh karena dianggap masih mahasiswa.

Serta terkadang perkataan “mahasiswa harus pintar” dan “mahasiswa kok ngga tau” itu salah satu pemicu tekanan berkepanjangan. Mahasiswa harus selalu benar sehingga apabila secuil kesalahan mereka merasa tidak kompeten, dan jelas setiap kesalahan yang dilakukan membuat mereka takut

dengan resiko yang ada. Stigma masyarakat dan standar akademik yang membuat mahasiswa menjadi banyak takut “salah” nya. Karena bagi mereka kesalahan bukan lagi pengalaman yang terbaik untuk  kedepan malah dianggap hal yang sangat memalukan apabila terjadi.

Dan dampaknya apabila budaya mahasiswa “diam” terus terjadi kelas menjadi pasif dan hanya satu arah, tak adanya diskusi yang berkembang antara dosen dan mahasiswa, kemampuan berpikir kritis seorang mahasiswa menjadi lemah sehingga mereka tidak mempunyai pemikiran yang lebih luas, dan kebiasaan mahasiswa yang memendam setiap pendapat yang bahkan terkadang pendapat mereka dianggap tidak penting itu jelas berguna untuk keberlangsungan diskusi aktif. Lalu pada akhirnya kampus kehilangan diskusi interaktif, yang seharusnya menjadi ranah pengembangan mahasiswa pupus sudah. Yang ada hanya mahasiswa menjadi pendengar dan dosen menjadi pendongeng.

Kesalahan adalah sebagian dari proses pengembangan belajar dan lahirnya pemikiran kritis. Mahasiswa tidak harus dituntut selalu sempurna, mereka harus salah supaya terbentuk pemikiran yang matang dan kesempurnaan berpikir. Sehingga dari kesalahan mereka belajar mencari yang benar, karena menurut saya apabila mereka tidak melakukan kesalahan yang ada mereka merasa mempunyai kedudukan tinggi dan pada akhirnya timbul rasa malas belajar, karena selalu merasa sempurna sehingga merasa cukup. Mahasiswa mulai saat ini harus mencoba menerapkan prinsip berani berbicara daripada takut dinilai, karena untuk

menuju benar dan kesempurnaan tentu dengan penilaian. Dan kampus terus menjadi ruang aman bagi mahasiswa dalam berpendapat, jadikan suasana nyaman untuk berdiskusi.

Pada akhirnya, keberanian berpendapat tidak semata didapat dengan cara instan, harus melalui rasa takut salah, di kritik dosen agar merasa salah lalu belajar dengan keras lagi sehingga yang awalnya kritik menjadi applause. Dan itu semua harus dengan mahasiswa yang memiliki keberanian untuk tampil dan menyuarakan pendapatnya dan menghiraukan mata dan mulut orang sekitar. Karena lagi dan lagi salah adalah proses belajar, tak ada satupun orang yang bisa mencapai kesempurnaan tanpa melalui proses yang pahit dan panjang. Jika budaya takut salah di normalisasikan, apa bedanya dengan ruang kelas kosong tanpa penghuni yang ada hanya keheningan tanpa pertukaran gagasan.

Dosen dan mahasiswa harus saling menghargai guna menciptakan ruang kelas yang aman dan nyaman, berbeda pendapat suatu hal yang sangat normal dan harus ada untuk keberlanjutan diskusi karena diskusi sehat perlu dibangun dengan landasan dan argumen, itu semua harus lahir dari pemikiran. Jika pemikiran yang ada namun tak disampaikan bagaimana diskusi berjalan? sudah seharusnya mahasiswa mulai mengambil rasa berani menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi dan lingkungan kampus yang menciptakan tempat ternyaman dan rasa aman bagi mahasiswa mau menyampaikan opini.

Kampus tidak menuntut kesempurnaan dari

mahasiswa yang berbicara, mereka menghargai mahasiswa yang berani menyampaikan isi pemikiran mereka. Karena kesalahan adalah proses penting dalam belajar maka dari itu mahasiswa harus mulai berani menyampaikan pikiran sekecil apapun untuk kedepannya berkembang menjadi besar. Dan, kampus dikenal melahirkan mahasiswa yang mempunyai pemikiran kritis karena itu sudah menjadi bagian dari pendidikan. Tetapi hal ini tak akan terwujud apabila mahasiswa terus memilih diam.

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik, Universitas Bengkulu