Oleh: Evinayu Pintubatu*

Kemacetan lalu lintas di Kota Bengkulu mulai menjadi fenomena yang semakin sering dirasakan masyarakat, terutama pada pagi dan sore hari. Walaupun belum berada pada tingkat kepadatan seperti kota-kota besar, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola mobilitas yang tidak bisa lagi diabaikan. Jalan yang dulu relatif lancar kini mulai menunjukkan tanda-tanda kepadatan pada jam-jam tertentu.

Pada jam sibuk, sejumlah ruas jalan utama di Kota Bengkulu dipadati kendaraan dari berbagai jenis. Situasi ini menyebabkan arus lalu lintas melambat dan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya. Bagi masyarakat yang memiliki aktivitas dengan jadwal ketat seperti pelajar, mahasiswa, dan pekerja, kondisi ini mulai menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri.

Salah satu faktor yang cukup berpengaruh adalah meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Berdasarkan data Electronic Registration and Identification (ERI) Korps Lalu Lintas Polri yang dihimpun melalui DataBoks Katadata, jumlah kendaraan bermotor di Kota Bengkulu pada April 2025 mencapai sekitar 315,98 ribu unit, dengan sepeda motor sebagai jumlah dominan yaitu sekitar 248,45 ribu unit, serta mobil penumpang sekitar 49,67 ribu unit. Data ini menunjukkan bahwa penggunaan kendaraan pribadi masih sangat tinggi di tengah aktivitas masyarakat sehari-hari.

Namun, meningkatnya jumlah kendaraan bukan satu-satunya penyebab kemacetan. Di lapangan, masih ditemukan berbagai kebiasaan yang turut memperburuk kondisi lalu lintas, seperti parkir sembarangan

di tepi jalan, kendaraan yang berhenti tidak pada tempatnya, hingga kurangnya disiplin pengendara di persimpangan. Hal-hal yang tampak kecil ini dapat memberikan dampak besar ketika terjadi secara bersamaan pada jam sibuk.

Kemacetan ini tidak hanya berdampak pada keterlambatan, tetapi juga pada efisiensi aktivitas masyarakat. Waktu perjalanan yang bertambah membuat masyarakat harus menyesuaikan jadwal keberangkatan agar tidak terlambat sampai ke tujuan. Kondisi ini secara tidak langsung mengubah pola aktivitas harian, terutama bagi mereka yang bergantung pada ketepatan waktu.

Selain itu, kendaraan yang terjebak dalam kondisi lalu lintas padat juga cenderung menghabiskan bahan bakar lebih banyak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menambah beban pengeluaran masyarakat, meskipun sering kali tidak disadari secara langsung karena terjadi sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat kondisi tersebut, kemacetan di Kota Bengkulu seharusnya mulai dipandang sebagai persoalan yang perlu ditangani bersama, bukan sekadar gangguan lalu lintas sesaat. Penataan parkir yang lebih tertib, pengawasan pada titik-titik rawan kemacetan, serta penegakan aturan lalu lintas menjadi langkah dasar yang dapat membantu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan.

Namun, kebijakan saja tidak akan cukup tanpa dukungan dari masyarakat. Kesadaran pengguna jalan untuk lebih tertib, tidak berhenti sembarangan, serta menghormati hak pengguna jalan lain menjadi faktor penting dalam menciptakan lalu lintas yang lebih lancar dan aman.

Pada

akhirnya, kualitas sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kedisiplinan warganya dalam menjaga keteraturan bersama. Kota Bengkulu masih memiliki peluang besar untuk mencegah kemacetan berkembang menjadi masalah yang lebih serius seperti di kota-kota besar lainnya. Namun, peluang itu hanya akan berarti jika ada kesadaran bersama untuk mulai berbenah sejak sekarang.

*Mahasiswa Jurnalistikm, Fakultas ilmu Sosial Ilmu politik, Universitas Bengkulu