Interaktif News – Marsal Abadi kembali dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu setelah memenangkan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Bengkulu yang digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Kandidat petahana itu meraih 66 suara dari total 131 pemilik hak suara, mengungguli pesaingnya, Iud Dwi Mursito, yang memperoleh 63 suara. Sementara itu, terdapat dua suara yang tidak sah.

Dengan hasil tersebut, Marsal Abadi resmi Kembali menakhodai PWI Provinsi Bengkulu untuk masa bakti 2026–2031.

Sementara itu, pemilihan Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Bengkulu tidak dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara. Tiga calon yang sebelumnya mendaftar, yakni Benny Hakim Benardie, Sukatno, dan Dian Marfani, memilih menempuh jalan musyawarah mufakat.

Melalui kesepakatan bersama, ketiganya menunjuk Sukatno sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Bengkulu periode 2026–2031.

Usai dinyatakan terpilih, Marsal Abadi mengajak seluruh anggota PWI Bengkulu untuk kembali bersatu dan mengakhiri dinamika yang terjadi selama proses konferensi.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang kembali diberikan oleh anggota PWI Bengkulu. Kemenangan ini bukan kemenangan pribadi, tetapi kemenangan seluruh keluarga besar PWI. Setelah kompetisi selesai, tidak ada lagi kubu-kubuan. Saatnya kita bergandengan tangan membangun organisasi yang semakin profesional, solid, dan mampu menjawab tantangan dunia pers yang terus berkembang,” ujar Marsal.

Ia menegaskan kepengurusan lima tahun ke depan akan difokuskan pada peningkatan kompetensi wartawan,

penguatan organisasi, perlindungan profesi, serta menjaga independensi dan marwah PWI sebagai organisasi wartawan tertua di Indonesia.

“Saya membuka ruang seluas-luasnya bagi semua anggota untuk berkontribusi. Kritik dan masukan akan menjadi energi bagi kepengurusan mendatang. Mari kita jadikan PWI Bengkulu sebagai rumah bersama yang mampu melahirkan wartawan berkualitas dan berintegritas,” tambahnya.

Pemilihan Dewan Kehormatan Lewat Musyawarah

Calon Dewan Kehormatan, Benny Hakim Benardie, mengatakan keputusan menempuh musyawarah merupakan bentuk kedewasaan seluruh calon demi menjaga soliditas organisasi.

Menurutnya, Dewan Kehormatan memiliki peran strategis dalam menjaga etika profesi dan marwah organisasi, sehingga kekompakan menjadi modal utama.

“Kami bertiga sepakat bahwa persatuan organisasi jauh lebih penting daripada kompetisi. Karena itu kami bermusyawarah dan mempercayakan amanah Ketua Dewan Kehormatan kepada Pak Sukatno. Ini menunjukkan bahwa di PWI Bengkulu masih terjaga budaya musyawarah dan kebersamaan,” kata Benny.

Ia berharap Dewan Kehormatan yang baru dapat bekerja secara independen, objektif, serta menjadi pengawal penerapan Kode Etik Jurnalistik dan Peraturan Dasar maupun Peraturan Rumah Tangga PWI.

“Kami akan memberikan dukungan penuh agar Dewan Kehormatan benar-benar menjadi penjaga integritas organisasi dan mampu menyelesaikan setiap persoalan secara adil sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Pemilihan Sempat Berlangsung Tegang

Proses pemilihan Ketua PWI Bengkulu sempat diwarnai suasana tegang. Ketatnya persaingan antara dua kandidat membuat jalannya sidang pleno III yang membahas mekanisme pemungutan suara

berlangsung alot.

Perdebatan muncul terkait diperbolehkan atau tidaknya peserta membawa telepon genggam (handphone) ke area bilik suara. Sebagian peserta berpendapat penggunaan telepon genggam seharusnya diperbolehkan, sementara peserta lainnya meminta agar perangkat tersebut tidak dibawa ke dalam bilik guna menjaga kerahasiaan dan integritas pemungutan suara.

Perdebatan tersebut semakin menghangat karena Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Peraturan Organisasi (PO), maupun tata tertib konferensi tidak mengatur secara spesifik mengenai penggunaan atau larangan membawa telepon genggam saat proses pencoblosan.

Situasi akhirnya kembali kondusif setelah pimpinan sidang diambil alih oleh Riki Susanto. Dengan pendekatan yang komunikatif, pimpinan sidang berhasil menjembatani berbagai pandangan peserta sehingga mekanisme pemilihan dapat disepakati bersama.

Setelah kesepakatan dicapai, proses pemungutan hingga penghitungan suara berlangsung aman, tertib, demokratis, dan transparan. Konferensi kemudian menetapkan Marsal Abadi sebagai Ketua PWI Provinsi Bengkulu periode 2026–2031, sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian Konferensi Provinsi PWI Bengkulu.

Reporter: Irfan Arief