Interaktif News – Di tengah peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 yang jatuh pada 25 November 2025, masih banyak guru honorer di daerah yang bergulat dengan ketidakpastian akan nasibnya. Salah satunya, Yogi Meriyanto (26), guru honorer di SMP Negeri 26 Talang Tinggi, Kecamatan Seluma Barat, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Yogi yang sudah dua tahun mengabdi hingga kini belum mendapatkan kejelasan status kepegawaiannya. Padahal, ia telah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG), yang seharusnya menjadi pintu menuju pengangkatan sebagai guru ASN.

“Saya sudah lulus PPG, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Jam mengajar juga tidak linear sesuai jurusan karena terbatasnya jam di sekolah,” kata Yogi saat ditemui, Selasa (25/11/2025).

Kondisi itu membuatnya hanya menerima honor sebesar Rp 180.000 per bulan. Jumlah tersebut, menurut Yogi, sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih untuk menopang pengembangan profesionalitas sebagai seorang pendidik.

Di sisi lain, Yogi juga menghadapi ancaman dirumahkan karena kebijakan pemerintah yang menghapus status tenaga honorer. Apalagi, ia tidak sempat mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap II.

“Informasinya, tahun depan banyak tenaga honorer akan dirumahkan karena aturan dari pemerintah. Apalagi kami yang tidak sempat ikut seleksi PPPK tahap dua,” ujar Yogi.

Untuk menambah penghasilan, Yogi mensiasatinya dengan membuka usaha konter kecil di dekat rumahnya.

Dari usaha itu, ia bisa menutup kebutuhan sehari-harinya seperti makan, transportasi ke sekolah, hingga sedikit menabung.

“Saya mengajar karena memang ingin berkontribusi untuk pendidikan. Tapi jujur, dengan kondisi seperti ini, rasanya berat,” ucapnya.

Sebelumnya, Yogi mengaku masih memiliki harapan besar untuk diangkat melalui jalur PPPK. Namun harapan itu semakin menipis karena tidak adanya pembukaan formasi PPPK untuk Kabupaten Seluma dalam waktu dekat.

Karena itu, Yogi berharap dalam momentum Hari Guru Nasional ini, pemerintah pusat maupun daerah lebih memberi perhatian kepada guru honorer, khususnya mereka yang sudah menyelesaikan PPG namun masih belum mendapatkan kepastian status.

“Bukan cuma saya, masih banyak guru honorer lain yang bernasib sama. Kami hanya ingin kejelasan,” katanya.

Di tengah perayaan Hari Guru Nasional yang sarat seremoni dan ucapan penghargaan, kisah Yogi menjadi potret nyata bahwa masih banyak pendidik di daerah yang mengabdi dalam keterbatasan, di antara dedikasi dan ketidakpastian.

Reporter: Deni Aliansyah Putra