Oleh : Maulana Malik Ibrahim*

Kalau ngomongin soal liburan di Sumatra, nama Kota Bengkulu tuh jujur aja masih sering tenggelam dibanding tetangga-tetangganya. Orang-orang lebih cepat kepikiran buat main ke Palembang atau nyeberang ke Lampung. Padahal kalau mau jujur, kota yang punya julukan “Bumi Rafflesia” ini punya paket komplit yang nggak kalah mahal. Mulai dari cerita sejarahnya yang bikin merinding sampai garis pantainya yang cakep parah, Bengkulu sebetulnya punya modal besar. Sayang banget kalau potensi sebagus ini Cuma dipandang sebelah mata dan nggak dimaksimalkan biar makin dikenal luas.

Coba kita liat dari sisi sejarahnya dulu, deh. Bengkulu tuh punya aset yang jarang banget dimiliki daerah lain di Indonesia. Di sana ada Benteng Marlborough, benteng peninggalan Inggris yang ukurannya super besar buat kawasan Asia Tenggara. Bukan Cuma sekadar tumpukan bata tua, tapi atmosfer di sana tuh beneran membawa kita ke masa lalu. Belum lagi kalau kita mampir ke Rumah Pengasingan Bung Karno atau kediaman Ibu Fatmawati. Cerita romansa dan perjuangan yang ada di sudut-sudut tempat itu punya nilai jual yang tinggi banget kalau dikemas jadi wisata edukasi yang seru, bukan yang ngebosenin kayak di buku pelajaran.

Tapi kalau nanya apa yang bikin langsung jatuh cinta sama Bengkulu, jawabannya jelas ada di sepanjang pesisirnya. Pantai Panjang

itu beneran juara. Garis pantainya luas banget, pasirnya putih, dan pinggirannya adem karena banyak pohon cemara, bukan pohon kelapa kayak pantai biasa. Yang paling mahal dari Pantai Panjang adalah momen sore hari. Karena posisinya langsung menghadap ke Samudra Hindia tanpa ada halangan pulau lain, kita bisa dapet pemandangan matahari terbenam yang dramatis banget. Buat orang yang hobi nyari ketenangan sambil menikmati “sunset”, tempat ini tuh sebetulnya surga.

Sayangnya, keindahan alam yang udah dikasih Tuhan ini masih sering mentok di masalah klasik kita: tata kelola sama kebersihan. Kadang kalau lagi main ke sana, masih sering kelihatan fasilitas umum yang kurang keurus atau tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan. Mau sebagus apa pun Pantai Panjang atau Pantai Berkas, kalau mata wisatawan langsung keganggu sama sampah plastik, impresinya pasti bakal langsung turun. Ini PR besar banget sih, karena urusan kebersihan itu butuh kesadaran bareng, baik dari pemda yang kelola maupun kita masyarakat lokal yang tiap hari nongkrong di sana.

Tantangan lain yang bikin Bengkulu agak susah maju adalah masalah akses atau konektivitas. Karena lokasinya di pesisir barat Sumatra, perjalanan darat ke Bengkulu tuh terkenal lumayan melelahkan dengan jalur yang berkelok-kelok. Di sisi lain, pilihan penerbangan langsung ke Bandara Fatmawati Soekarno juga belum terlalu banyak dan harga

tiketnya sering kali bikin dompet menjerit. Selama akses transportasi ke sana masih mahal dan ribet, orang luar bakal mikir dua kali buat datang, dan Bengkulu bakal tetap jadi destinasi yang “jauh di mata” buat para pelancong.

Nah, biar bisa bersaing di zaman sekarang, cara mempromosikan wisata Bengkulu juga harus diubah total. Nggak bisa lagi pakai cara-cara lama yang kaku. Kita perlu memanfaatkan media sosial secara maksimal lewat konten-konten video yang estetik atau kolaborasi sama “travel influencer”. Yang paling penting itu visual dan ceritanya (“storytelling”). Kita harus bisa bikin orang luar ngerasa kalau Bengkulu itu bukan Cuma kota transit yang sekadar dilewati, tapi emang sebuah tujuan utama yang wajib masuk ke dalam daftar liburan mereka.

Selain tempat wisalanya, sektor pendukung kayak UMKM dan kuliner lokal juga harus makin dihidupkan. Bengkulu itu punya Kain Besurek yang motif kaligrafinya unik banget, terus ada kuliner khas kayak Pendap, sampai olahan durian yang melimpah. Kalau sentra kerajinan dan tempat makan ini ditata rapi di dekat area wisata utama, efeknya bakal langsung berasa ke ekonomi warga setempat. Jadi, wisatawan yang datang nggak Cuma pulang bawa foto-foto bagus buat di-posting, tapi juga bawa pulang cerita rasa dan oleh-oleh yang bener-bener khas dari Bengkulu.

Garis besarnya, bikin pariwisata Kota Bengkulu makin

hidup itu bukan Cuma tugas pemerintah daerah sendirian. Pemerintah emang wajib nyiapin infrastruktur yang bener dan bikin regulasi yang oke, tapi masyarakatnya juga harus siap jadi tuan rumah yang ramah dan sadar lingkungan. Kalau semua pihak bisa kompak dan satu frekuensi, bukan hal yang mustahil kok kalau ke depannya Kota Bengkulu bakal bangun dari tidurnya dan jadi salah satu pusat perhatian utama pariwisata di pulau Sumatra.

*Penulis mahasiswa Mahasiswa S1 Jurnalistik Fisip Unib