Suara Ghaib Covid-19

Covid-19

Foto Ilustrasi: Suara.com

Selepas subuh, ponsel ku berdering saya lihat nomor yang masuk dari sang ustadz yang juga ketua wilayah salah satu Ormas Islam terbesar di republik ini. Sedikit kaget karena selama ini kami jarang berkomunikasi via telepon, kalaupun bercakap-cakap dalam momen tertentu saja. 

Dalam cakap tersebut kalimat pertama yang dilontarkan beliau kepada saya adalah bagaimana pandangan mas Fahmi dengan kondisi saat ini ---- maksudnya pandemi Covid-19 ---- spontan saja saja jawab "kondisi tidak menentu mas" kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. 

Sembari saya berikan alasan kritis, sepanjang cara pemerintah tidak serius dan cenderung parsial dalam memutus rantai penularan, mungkin jalan panjang bagi kita untuk kembali lagi pada kondisi normal ataupun new normal ---- meminjam istilah sekarang ---- ditambah lagi habit (kebiasaan) masyarakat kita yang jauh dari sikap disiplin sebagaimana diatur dalam protokol kesehatan pencegahan Covid-19. 

Lalu beliau berkata maksud saya mas Fahmi bukan penjelasan seperti itu, tapi bagaimana kondisi saat ini dilihat dari dimensi spiritual. "Begini mas Fahmi, saya malam ganjil diakhir ramadhan ini intens berkomunikasi dengan jaringan spritual saya melalui sholat malam (tahajud). Dalam komunikasi spritual yang saya lakukan, "blank dan gelap" mas Fahmi.

Dalam komunikasi ghaib itu ujar beliau, akan terjadi sesuatu yang "berbahaya dan menakutkan" tentang masa depan kita dan bangsa ini. Dalam bahasa ekstrim saya mas, kita sedang berproses menuju ke titik nol, jika super ekstrim nya kita menuju ke kehidupan abadi. Isyarat spritual saya ini mungkin oleh sebagian orang pasti dianggap ngacoh dan tidak memiliki basis akademis. 

Tapi begini mas Fahmi, isyarat spritual hanya bisa dipahami oleh orang yang memiliki "gizi" spritual di hatinya. Mas, kondisi politik kita akan menghitung hari dan hari-hari kedepan kekuasaan/jabatan yg sudah terlanjur dituhankan itu tak punya arti apa-apa lagi, karena kondisi sudah "chaos". Lalu harta dan uang melimpah juga tak memiliki nilai, karena tidak bisa digunakan. 

Saya langsung menyela "kok jadi menyeramkan begini tadz" bukan... bukan ... mas fahmi, ini semua siluet komunikasi spritual yang saya terima dalam hening malam yang sepi dan sunyi. Saya juga mas Fahmi berharap, realitas duniawi yang akan terjadi tidak seperti realitas spritual yang saya lihat. Jadi begini saja mas, sekarang mari ajak diri kita sendiri dan keluarga untuk mencari bekal Illahi dari sisa waktu yang last minute ini. 

Sembari kita berharap intervensi Tuhan akan segera turun, agar masih memberikan waktu keduniawian kita dan bangsa ini untuk tetap bertahan sedikit lagi. Lalu beliau menutup pembicaraannya. Semoga tulisan hasil percakapan ini, menggugah spritualitas kita, jika anda tidak setuju itupun semata-mata reaksi dari spiritualitas juga.

Penulis: Elfahmi Lubis, Kresek Rakyat