Sabuk Hijau Peredam Tsunami yang Hilang

1

Vegetasi tanaman di Pantai Pantai Panjang, Bengkulu, yang minim. Sepanjang pantai ini hanya ditumbuhi pohon pinus dan cemara. Foto: Ahmad Supardi/Mongabay Indonesia

Provinsi Bengkulu berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, dengan garis pantai sepanjang 433 kilometer. Bengkulu pernah mengalami dua kali bencana tsunami, yakni 1797 dan tahun 1833. Peneliti dari Puslit Geoteknologi Lipi, Eddy Z Gaffar menegaskan pentingnya sabuk hijau pelindung pantai dari terjangan tsunami yaitu tanaman mangrove sebagai pemecah gelombang. Apalagi pesisir Bengkulu relatif kosong dan sebagian merupakan permukiman.

Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup [PPLH] Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutananan [DLHK] Bengkulu, David Gusman, menuturkan hutan mangrove di Bengkulu saat ini mengalami kerusakan dan luasannya berkurang. Peneliti dari Puslit Geoteknologi Lipi, Eddy Z Gaffar dalam jurnalnya Pemetaan dan Kajian Bencana Tsunami Daerah Kota Bengkulu 2007 menegaskan, sabuk hijau sepanjang pantai menjadi solusi perlindungan Bumi Rafflesia dari terjangan tsunami.

Terlebih, pesisir Bengkulu sebagian besar wilayahnya merupakan permukiman masyarakat, yang memiliki kerentanan tinggi terhadap tsunami. “Diperlukan perencanaan yang baik mengenai mitigasi bencana tsunami, sehingga mereduksi korban jiwa dan kerusakan infrastruktur,” terang Eddy pertengahan September 2019.

Hutan mangrove merupakan sabuk hijau yang dapat digunakan sebagai pelindung. Mangrove sangat efektif, karena kekuatan akar-akarnya yang mampu menyangga terjangan gelombang tsunami. Eddy juga menjelaskan, pesisir Bengkulu relatif kosong selain permukiman. Kondisi ini bisa dimaksimalkan untuk mangrove, sebagai pemecah gelombang.

Pastinya harus direalisasikan, sebab Bengkulu cukup dekat dengan sumber gempa, mengakibatkan waktu penjalaran tsunami dari pusat gempa ke pesisir singkat. Hutan mangrove adalah solusi menghalau gelombang tersebut. “Perlu sekali dibangun zona aman gelombang tsunami di daerah-daerah rawan,” paparnya.

Kondisi sabuk hijau Bengkulu

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan [DLHK] Bengkulu menunjukkan, luasan mangrove saat ini sekitar 1.904 hektar, tersebar di beberapa hamparan utama salah satunya Kota Bengkulu. “Di kota ini areal mangrove sekitar 214,62 hektar,” kata Kepala DLHK Bengkulu, Sorjum Ahyan, Juli 2019, dikutip dari laman Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup [PPLH] Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutananan [DLHK] Bengkulu, David Gusman, menambahkan bahwa hutan mangrove di Bengkulu saat ini memang mengalami kerusakan dan penurunan luasan. Pihak DLHK Bengkulu, kata dia, telah melakukan penyelamatan. “Rehabilitasi di sejumlah tempat dilakukan,” kata David, Jumat (04/10/2019).

Buku Sebaran Mangrove Kritis Indonesia yang dibuat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018, Bengkulu termasuk wilayah dengan kerusakan mangrove memprihatinkan, di kawasan konservasi maupun di luar. Dalam buku ini dijelaskan bila Provinsi Bengkulu sesungguhnya memiliki mangrove dengan kondisi baik seluas 4.393 hektar.

Tercatat, lima kabupaten/kota di Bengkulu yang memiliki hutan mangrove: Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Mukomuko, dan Seluma.

Di Kota Bengkulu, ada empat kecamatan sebagai habitat mangrove, yaitu Gading Cempaka, Kampung Melayu, Muara Bangka Hulu, dan Sungai Serut. Terdata, mangrove di wilayah ini dengan kondisi baik seluas 764 hektar. Namun kawasan kritisnya tak kalah banyak, di luar kawasan konservasi terdata 146 hektar, dan di dalam kawasan 72 hektar. Penyumbang luasan kritis terbanyak di Kecamatan Kampung Melayu, 127 hektar di luar kawasan konservasi dan 67 hektar di kawasan konservasi.

Kerusakan terparah selanjutnya di Seluma, ada delapan wilayah yaitu Air Periukan, Ilir Talo, Seluma Barat, Seluma Selatan, Semidang Alasa Maras, Sukaraja, Sungai Serut, hingga Talo Kecil. Total mangrove kritis di luar kawasan konservasi sekitar 80 hektar, sementara di kawasan konservasi adalah 51 hektar. Mangrove kondisi baik sekitar 973 hektar.

Sedangkan kabupaten dengan kondisi mangrove terbaik berada di Bengkulu Utara, 1.900 hektar, tanpa mangrove kritis. “Tahun depan kami akan melakukan rehabilitasi mangrove di Kota Bengkulu dan Kabupaten Seluma,” kata David.

Perambahan

Pegiat Komunitas Mangrove Bengkulu, Regen Rais menyatakan kerusakan mangrove memang terjadi di Bengkulu.

Khusus Kota Bengkulu, tahun 2002, untuk TWA Pantai Panjang, yang menaungi wilayah Sumber Jaya, Teluk Sepang, Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, tercatat memiliki luasan 1.000 hektar. Namun tahun 2007, berkurang menjadi 533 hektar.

“Tahun 2011, kami memantau kondisi mangrove yang masih baik sekitar 193 hektar, itu pun berada di kawasan konservasi,” terangnya.

Dia menjelaskan, awal penyusutan terjadi sebelum 2000-an. Saat itu, banyak permintaan kayu mangrove untuk dijadikan arang. Lalu berlanjut pembukaan lahan untuk pertambakan, kebun sawit hingga permukiman. “Kasus terbaru, perusakan massal pada Agustus 2017 di Pulau Baai, Teluk Sepang, Kampung Melayu,” tuturnya.

Pembabatan dilakukan di pesisir Pulau Baai demi pembangunan tapak pembangkit listrik tenaga uap [PLTU] batubara. Luasan yang dibabat habis lalu ditimbun sekitar 10 hektar. “Kami protes bukan karena manfaat mangrove secara ekonomis saja, tapi sebagai upaya mitigasi gempa di Bengkulu,” tegasnya.

Kerusakan mangrove di Kampung Melayu membuat komunitas mangrove resah, sebab data Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] Bengkulu menyatakan, Teluk Sepang, Pulau Baai, Kecamatan Kampung Melayu masuk zona rawan bencana.

Sejumlah wilayah Kota Bengkulu memang rawan bencana, yakni Kecamatan Selebar, Kampung Melayu, Gading Cempaka, Ratu Agung, Ratu Samban, Singaran Pati, Teluk Segara, Sungai Serut dan Muara Bangka Hulu. “Zona merah sebaiknya diperhatikan upaya mitigasinya,” kata Regen.

Meski begitu, Komunitas Mangrove Bengkulu tak patah arang. Demi sabuk hijau terbentang di barat Sumatera, mereka menggandeng siswa Sekolah Menengah Atas [SMA], mahasiswa pencinta alam, dan komunitas lain untuk giat menanam dan menjaga mangrove. “Mangrove membuat daerah pesisir tak mengalami kerusakan kerika diterjang gelombang,” kata Regen.

Sabuk hijau juga mampu mengurangi ketinggian ombak laut. Vegatasi ini penting sebagai pelindung, ekonomis dan efektif untuk jangka panjang. Fungsi mangrove untuk konservasi, seperti mencegah intruisi air laut, mengikat sendimen serta melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami, sebagai penyerap polutan memang terbukti.

“Tempat berpijahnya aneka biota laut, berkembang biak burung, mamalia, serangga, reptil dan memiliki kamampuan karbon tinggi adalah manfaat besarnya,” lanjutnya.

“Saat ini, kami telah membentuk sekitar 4 hektar tegakan mangrove baru. Lokasinya di TWA Pantai Panjang Pulau Baai sekitar 2 hektar [2 lokasi], Pondok Besi dan Bajak [1 ha], dan Sungai Hitam [1 ha],” jelasnya.

Kesadaran mitigasi harus dimiliki masyarakat dan pemerintah memberi perhatian khusus pada wilayah rawan bencana. “Sebab, provinsi ini berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dengan garis pantai sepanjang 433 kilometer,” tutur Regen.

Pada dasar samudra, terdapat Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Pergerakan dua lempeng itu sangat potensial membangkitkan gelombang tsunami. Sejarah mencatat, Bengkulu pernah mengalami dua kali diterjang tsunami, pada 1797 dan 1833. Gempa kecil juga sering menguncang wilayah ini.

Penulis: Ahmad Supardi/Mongabay Indonesia

Artikel Ini telah Tayang Sebelumnya di Situs Berita Lingkungan Mongbay Indonesia dengan Judul: https://www.mongabay.co.id/2019/10/05/sabuk-hijau-peredam-tsunami-yang-hilang-bagian-3/?