Interaktif News – Sejumlah pedagang di Alun-alun Tais, Kabupaten Seluma, Bengkulu, mengeluhkan penumpukan sampah yang tak kunjung teratasi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menimbulkan bau tidak sedap dan dipenuhi lalat, sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung.

Pantauan di lokasi, tumpukan sampah terlihat menggunung dalam karung di berbagai sudut alun-alun. Sebagian sampah juga berserakan di area sekitar, memperburuk kondisi kebersihan di ruang publik tersebut.

Penumpukan sampah diduga terjadi akibat terbatasnya operasional pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Sampah yang seharusnya diangkut secara berkala ke tempat pemrosesan akhir (TPA) kini mengalami keterlambatan, sehingga terus menumpuk.

Data yang terhimpun dari keteraangan pedagang, persoalan ini telah dilaporkan kepada dinas terkait. Namun di sisi lain, muncul rencana penerapan aturan baru retribusi sampah, yakni pembayaran sebesar Rp20.000 per kubik dengan ketentuan sampah diantar langsung ke TPA Talang Sali. Selama ini, pedagang hanya membayar Rp50.000 per minggu untuk biaya pengangkutan.

Zadli, pedagang bakso bakar, mengatakan sampah sudah menumpuk selama sepekan terakhir. Biasanya, petugas melakukan pengangkutan setiap tiga hari.

“Sekarang sudah seminggu tidak diangkut. Kami berharap pemerintah segera bertindak agar alun-alun kembali bersih,” kata Zadli.

Keluhan serupa disampaikan Rizal Efendi, pedagang es teh hijau. Ia menyebut para pedagang sebenarnya telah membentuk kelompok mandiri dengan iuran Rp3.000 per hari untuk penanganan sampah.

“Kalau mayoritas sampah di kawasan ini

tidak hanya dari pedagang aja bang, ada juga sampah dibawa pengunjung dari luar, ” ujarnya.

Keterbatasan armada membuat sampah tidak dapat diangkut ke TPA Talang Sali yang berjarak cukup jauh dari lokasi. Seharusnya kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah, mengingat Alun-alun Tais merupakan salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat di Kabupaten Seluma.

Reporter: Deni Aliansyah Putra