Masa Depan Gajah Sumatera dalam Kepungan Tambang Batu Bara

Gajah Seblat Bengkulu

Aksi simpatik Konsorsium Bentang Alam Seblat untuk penyelamatan Gajah Sumatera, Kamis, 12 Agutus 2021, Foto: Dok/Kanopi Hijau Indonesia

Interaktif News - Memperingati Hari Gajah Sedunia 2021, anggota Konsorsium Bentang Alam Seblat menggelar aksi simpatik dengan membentangkan spanduk raksasa berisi pesan penyelamatan gajah Sumatera (Elephas Maximus sumatranus) dari ancaman pertambangan batu bara di wilayah Bentang Seblat, Bengkulu.

Spanduk bertuliskan "Coal kill elephant, Seblat landscape for future" dibentangkan para aktifis dan pawang gajah dan tiga ekor gajah Sumatera di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara. Bentang Seblat merupakan habitat terakhir gajah Sumatera yang tersisa yang ada di Provinsi Bengkulu.

Anggota Konsorsium yang juga Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar mengatakan, Bentang Seblat tidak lepas dari ancaman yang setiap tahun terus meningkat terutama industri ekstraktif batu bara. 

"Contoh nyata adalah PT Inmas Abadi yang sampai saat ini izin usaha pertambangan produksi masih belum dicabut Menteri ESDM," kata Ali, Kamis, (12/08/2021)

Ia menegaskan bahwa bila Bentang Alam Seblat bukan untuk tambang batu bara tetapi untuk kehidupan seluruh mahluk hidup, termasuk gajah. 

Gajah sumatera merupakan satwa dilindungi dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Gajah sumatera memiliki posisi sebagai konsumen tingkat satu (herbivora/pemakan tumbuhan). 

Artinya bagian dari suatu jaringan makanan dan aliran energi. Apabila populasi gajah sumatera berkurang maka jaringan makanan serta keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Edwin Ravinki dari Lingkar Inisiatif Indonesia yang juga anggota konsorsium mengatakan perburuan dan kerusakan habitat menjadi ancaman terbesar bagi keberlanjutan hidup gajah Sumatera di Bengkulu. Dari hasil patroli rutin yang digelar Lingkar Institute dalam dua tahun terakhir menemukan habitat gajah terus beralihfungsi dan menyempit.

"Dalam dua tahun ini kami menemukan empat ekor bangkai gajah membusuk di dalam hutan," katanya.

Sementara Desrizal Mudas, salah seorang mahout atau pawang gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat mengatakan perlu dukungan dari para pihak untuk penyelamatan gajah. "Perlindungan terhadap kawasan TWA Seblat harus sesuai dengan fungsinya. Jangan ada lagi perambahan, perusakan hutan," katanya. 

Senada dengan mahout, Kepala Resort PLG Seblat, Mustadin menyampaikan harapan agar lebih banyak lagi dukungan para pihak untuk mengangkat martabat PLG Seblat. Ia mengajak seluruh pihak bersama-sama melindungi habitat dan masa depan gajah.

"Saat ini tantangannya semakin sulit, pihak lain banyak yang berkepentingan namun bertentangan dengan keselamatan gajah," kata Mustadin. [***]

Editor: Freddy Watania