Kisah Anak Jakarta KKN di Bumi Rafflesia

Noergawanti Syafitri

Oleh: Noergawanti Syafitri (Mahasiswi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta)

Padang Harapan…iya, begitu namanya. Tempatku belajar banyak hal, mengenal arti hidup, keberagaman, karakter manusia, dan jauh dari kehidupan yang biasanya. Padang Harapan, yap! Padang.. dengan sejuta Harapan. Hampir semua masyarakat disana memiliki impian setinggi langit, karena mereka selalu percaya bahwa jika sekalipun mereka jatuh, maka mereka jatuh diantara bintang-bintang.

Aku, Wanti.. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jakarta yang beruntung bisa datang ke Bumi Rafflesia ini. KKN Muhammadiyah untuk Negeri membawaku pada petualangan hebat yang sama sekali belum pernah aku lewati sebelumnya. Jauh dari orang tua, meninggalkan kehidupan kampus untuk sementara, tidak ada junkfood, tidak ada nongkrong-nongkrong bersama sahabat, dan yang lebih membuat dag dig dug.. harus bersama orang yang belum pernah dikenal dalam waktu 45 hari. What a big decision!

Hari demi hari kulewati menjelang keberangkatan dan meninggalkan kehidupan di kota metropolitan menuju kota yang belum pernah aku pijakkan. Tak ada sekalipun terbesit dalam otakku bahwa aku akan menginjakkan kakiku ke tempat penuh sejarah ini. Segala rasa cemas menggandrungi pikiranku bahkan hingga satu malam sebelum berangkat. But finally, it was the time for me to did some fantastic journey.

Banyak yang bilang, suhu Bengkulu lebih-lebih dari Jakarta. Ketakutan mulai muncul, mulai dari ketakutan akan hitamnya kulit, susahnya mencari makan sesuai selera, hingga pada gaya hidup kota yang harus dikubur dalam-dalam. Tapi, ada satu dorongan yang membuatku selalu yakin bahwa bagaimanapun keadaannya, perjalanan ini akan menyenangkan. Aku melihat peta lokasinya, dan.. 10 minutes from beach guys!

Duduk di kursi bus, dan memandangi Ibukota sambil berkata “sampai jumpa Metropolitan, aku akan merindukan kehidupan yang tidak ada tandingannya ini. Aku akan menjadi orang dusun (Kampung) untuk waktu beberapa saat. haha”

Boom! “Selamat Datang di Kota Bengkulu”. Minimarket yang sudah terkenal dengan warna merah kuning dan biru itu terpampang dimana-mana, tukang jajanan berjajar, toko-toko pun lengkap. “wah Jakarta pindah ini sih,” pikirku sejenak. Namun tetap saja berbeda, tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada ramai kendaraan, juga bahasa “elo gue”.

Rasanya segala kekhawatiran diawal hanyalah manusiawi, belum memulai sudah takut duluan. Kenyataannya, kami KKN di tempat yang secara geografis tidak jauh dari pusat pemerintahan.

Kata orang “apa rasanya KKN di tempat yang sudah maju”. Aku akui, Kota Bengkulu ini sudah menjadi kota yang sedang menata diri untuk terus semakin baik dengan mengikuti segala perkembangan. Justru, disinilah kita menemukan tantangan!

Mungkin muncul sebuah pertanyaan, tantangan macam apa di kota yang sudah berhasil? Memang, tempat tinggalku sangat strategis dimana hanya dengan jalan kaki kita sudah bisa sampai ke minimarket, depot isi ulang air minum, apotek, counter pulsa, bahkan tempat laundry. Tapi  jangan salah, disana tentunya dipertemukan juga pada tantangan dimana kita dihadapkan pada jenis masyarakatnya yang sudah mulai modern cara berpikirnya, yang sudah berpendidikan, hingga masyarakat yang memiliki kesibukkan siang malam. 

Kita harus mencari cara bagaimana bisa berbaur pada mereka dan mengajaknya pada kegiatan yang sudah direncanakan. Treatment nya harus benar-benar berbeda dari KKN pada umumnya yang berjumpa pada masyarakat pedesaan, dari situlah aku belajar.

Satu hal yang sangat membuatku kagum untuk pertama kalinya, aku mengetahui fakta bahwa warga setempat merupakan warga yang produktif, artinya mereka adalah orang-orang sibuk yang tidak mudah ditemui. Namun, setiap kali masuk waktu shalat, masjid sudah terisi ramai oleh jamaah. Iya, aku dan kelompok mendapat kesempatan untuk tinggal dirumah Marbot, yang bahkan dindingnya pun tidak terpisah dengan masjid. Kegiatan di masjid selalu kami nikmati dengan hikmat.

Kelurahan Padang Harapan Kecamatan Gading Cempaka. Seperti yang aku sampaikan diawal, tempat ini tempat sejuta impian. Bapak-bapak yang bekerja seharian namun tetap excited dengan kami mahasiswa KKN, Ibu-ibunya pun yang selalu ceria antusias dengan segala kegiatan KKN. Namun, ada fakta menarik lainnya. Aku ingat kali pertama melaksanakan program individuku, Public Speaking Class untuk remaja karena yang dihadapi adalah masyarakat modern, aku yakin betul bahwa ilmu Public Speaking ini akan sangat mereka butuhkan terutama untuk hal mendasar meski sekadar presentasi pada dosen. Dengan penuh pertimbangan, kuputuskan untuk melaksanakannya pada hari Sabtu karena merupakan hari libur. Sekira pukul 10.00, aku jadwalkan begitu agar tidak terbentur waktu ibadah Dzhuhur. Namun hingga pukul 11.00 baru 3 remaja putri yang datang, apa boleh buat, kelas tetap harus dilaksanakan.

Memang, hampir tidak pernah aku berjumpa dengan remaja di setiap rumah warga, bahkan ketua remaja masjidnya pun belum pernah terlihat. Bukan karena tidak ada remaja disana, namun karena sebagian dari mereka memilih menuntut ilmu di perantauan. Mereka berpikir bahwa dengan meninggalkan kota kelahirannya, dan mencari ilmu di kota-kota besar adalah pilihan yang tepat demi pulang ke kampung halaman dengan membawa kemajuan. Pola pikir yang membuatku salut setiap kali mendengar ibu-ibu disana berkata bahwa anaknya sedang kuliah di Jakarta, Padang, Palembang, Jogja, Bandung, hingga Malang. Lalu, sebagian remaja lainnya? Ada, mereka juga kuliah dengan segala kesibukannya.

Momentum 17 Agustus kami manfaatkan untuk melakukan pendekatan pada remaja-remaja setempat yang akhirnya bisa ditemui. Berkenalan, bertukar cerita, hingga berminat untuk berkunjung ke kampus mereka rupanya menjadi cara yang ampuh untuk menarik mereka agar turut partisipasi dalam kegiatan KKN. Benar saja, pertemuan public speaking selanjutnya, sudah sangat lebih baik, peserta bertambah ramai.

Sejak kala itu, kegiatan demi kegiatan terasa lebih menyenangkan karena partisipasi remaja sekitar yang turut melancarkan program-program yang dilaksanakan. Pengerjaan kerajinan tangan dari Koran Bekas, pembuatan Plang Jalan, sosialisasi produk sirup Jerami Nangka dan Lantak Singkong, dan lainnya.

Bergaul dengan warga setempat khususnya bersama remajanya sangat membawa perjalanan baru yang menyenangkan bagiku. Tentu saja, dari sana aku bisa mengerti perbedaan-perbedaan budaya, kebiasaan, pola pikir, bahkan aku bisa berbahasa Bengkulu. Cool! Aku bangga ketika pulang menggunakan beberapa istilah dari bahasa Bengkulu, membuat semakin terlihat bahwa aku enjoy the journey.

Aku jadi teringat, ketika dulu sebelum berangkat aku dirundungi rasa takut dan khawatir luar biasa, aku takut tidak nyaman, tidak betah, ingin cepat pulang, dan lain sebagainya. Rupanya, baru setengah perjalanan saja aku sudah merasa waktu begitu cepat berlalu dan sungguh, ingin sekali aku berlama-lama disana.

Bagaimana tidak? Hampir setiap pagi kami disuguhkan udara segar dengan langit cerah membiru. Siang hari memang terasa panas matahari terik membakar kulit, tetap saja oksigen terasa sangat ringan karena jarang sekali polusi. Sore? Malam? Jangan ditanya, angin pantai sepoi-sepoi siap menemani hingga pagi. Belum lagi, tawaran pergi ke pantai setiap pagi selalu menghampiri. Iya! Salah satu part paling menyenangkan, kita bisa setiap hari ke Pantai, sedangkan di Jakarta jauh nian.

Selain bergaul dengan warga sekitar, bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa di Bengkulu sangat penting bagiku. Relasi, pengalaman, berbagi ilmu, itu salah satu yang terpenting dalam setiap perjalanan. Mulai dari mahasiswa Universitas Muhammdiyah Bengkulu, Universitas Bengkulu, hingga IAIN Bengkulu. Senang sekali rasanya bisa berkunjung dan melihat kegiatan di kampus-kampus tersebut. Bahkan “nongkrong” bareng mahasiswa di sana rasanya sudah seperti bersama teman kampus sendiri, seperti mahasiswa Jakarta. Ya.. seperti yang sudah kubilang, orang-orang sana sudah cukup modern dan tidak kalah dari orang Jakarta.

Memperbanyak relasi memperbanyak informasi, kami bisa mengetahui potensi wisata yang harus dikunjungi. Tentu saja, ketika segala program kerja KKN telah terlaksana dengan baik, kami sediakan waktu untuk meng-explore apa yang ada di Bumi Rafflesia. Sayang sekali rasanya ketika mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sudah datang ke tempat indah ini, namun tidak berpergian kemana-mana. 

Explore Bengkulu juga sekaligus kami manfaatkan untuk mengenalkan pariwisata Bengkulu yang luar biasa agar seluruh Indonesia tahu keindahannya, melalui media sosial yang kami miliki, kami promosikan tempat-tempat menyenangkan tersebut. Mulai dari tempat bersejarah Rumah Pengasingan Bung Karno, Rumah Fatmawati, Benteng Marlborough, hingga pada tempat wisata yang memberikan “Vitamin Sea” Pantai Panjang, Sungai Suci, Danau Dendam, dan Pulau Tikus di seberang sana.

Kita semua mengetahui tentang Bunga Rafflesia yang tidak pernah diketahui keberadaannya ketika mekar, semua orang ingin sekali berjumpa karena tidak sering bunga itu tumbuh. Sekalipun tumbuh, selalu pada lokasi yang berpindah-pindah, namun tetap di Provinsi Bengkulu. Its an honour for me datang di waktu yang tepat ketika rafflesia mekar di daerah Kepahiang. Iya, bunga rafflesia biasanya tumbuh di daerah pegunungan dan di dalam hutan.

Tidak hanya tempat bersejarah dan “Vitamin Sea” saja yang kami kunjungi, air pegunungan pun kami temui. Air terjun daerah Kepahiang yang ku lupa untuk melihat namanya karena terlanjur terkesima dengan indahnya, masih sepi, warnanya masih bening kehijauan, asri!

Tidak ada yang kebetulan dimuka bumi ini. Masa-masa 10 hari terakhir KKN adalah tepat pada waktu dimulai nya Festival Tabut, festival tahunan se-Provinsi Bengkulu yang dilaksanakan pada 1-10 Muharram. 10 hari terakhir kami terasa semakin menyenangkan dan ingin cepat pulang, beberapa kegiatan kami saksikan mulai dari acara pembukaan, lomba-lomba seni, hingga pada tabut bersanding. Akhir dari Festival Tabut juga sekaligus menutup rangkaian KKN kami di Kota penuh kenangan ini. Sebuah niscaya rasanya kami mendapat banyak kesempatan momentum hari besar selama KKN.

Hingga hari terakhir menjadi warga Bengkulu, tangis air mata pun pecah, dari kami yang tidak tahu kapan lagi bisa bertemu, dari kami yang harus kembali pada kota kami masing-masing yang berbeda satu sama lain, dari kami yang terus berdoa semoga segera kembali dipertemukan. 

Dan dari aku, yang berjanji kembali untuk Bengkulu, suatu saat nanti ada waktu, jika panjang usiaku.