Diskriminasi Dunia Kerja, ‘Berpenampilan Menarik’ Sering Nongol

Karyawan Cantik

Ilustrasi karyawan Berpenampilan Menarik, Poto/southbrucepeninsula.com

Feature - Bagi kita warga negara Indonesia, mungkin udah biasa banget lihat iklan lowongan pekerjaan yang mencantumkan syarat seperti ini: Berpenampilan menarik, Tinggi badan minimal 165 cm, Usia maksimal 25 tahun, Fress Graduate, Taat Beragama, Belum menikah, Wanita atau Pria, Sehat jasmani dan rohani, dan lain-lain. 

Berbeda dengan Amerika Serikat, sederet persyaratan diatas dianggap diskriminatif karena menilai orang hanya dari tampilan luar aja. Orang Amerika ogah banget mengurusi pribadi orang seperti penampilan, soal keyakinan, nikah atau belum atau taat beragama atau tidak. Hati-hati, iklan loker yang mencantumkan syarat seperti itu dilarang keras, jangan coba-coba bisa dipidana.

Baca juga: Cantik Maksimal, 6 Mahasiswa UNIB Ini Bikin Meleleh

Nah…di negara kita, kalimat-kalimat iklan seperti itu sudah lumrah "Dibutuhkan Sekretaris, Berpenampilan Menarik" atau "Good Looking" paling sering kita temui. Embel-embel itu bahkan menjadi tren dan kadang menjadi syarat utama walau pastinya nengkrong di poin akhir persyaratan loker. Lah..ini mau nyari sekretaris atau selebgram yah? 

Berbanding terbalik dengan negara Scotlandia, untuk posisi sekretaris mereka lebih suka kalangan wanita dewasa. Disana untuk jadi sekretaris perusahaan tak perlu neko-neko urusan penampilan. Bagi mereka sekretaris itu sangat berperan penting sehingga prioritas bagi mereka yang benar-benar punya skill ketimbang penampilan. Jadi bukan buat objeknya para pria hidung belang. 

Uniknya, kalimat “Berpenampilan Menarik” kayaknya menjadi kalimat andalan, entah mau ngelabuhi atau tipu muslihat untuk menghindari judge diskriminatif.? Mungkin pula mereka kekurangan kosa kata untuk menggambarkan keinginan sosok karyawan yang dibutuhkan. Kenapa nggak sekalian aja “Dibutuhkan Sekretaris Cantik, Tirus, Mulus, dan Hot” kan keren tuh!

Kita semua mungkin sepakat kalau syarat-syarat yang sering tercantum di daftar loker tersebut perlu di-delete bahkan di demo besar-besaran kalu perlu, demokrasi bro. Soalnya kompetensi orang kan sebenarnya nggak bisa diukur cuma dari hal-hal begitu. Harusnya semua orang punya kesempatan yang sama untuk bisa mengakses dunia kerja. Menurut Bro gimana?

Ok, bukan hanya soal itu, di negara kita, ijazah juga kayaknya lebih prioritas ketimbang skill. Apa-apa uda bicara ijazah, uda sarjana belum? SMA atau gimanala, yang jelas selembar kertas itu berarti banget untuk cari kerjaan di negara kita. Jadi ingat ucapan Bung Rocky Gerung, “Ijazah itu bukan tanda kamu pernah mikir tapi tanda kamu pernah sekolah“ benar nggak sih? 

Balik ke ‘Berpenampilan Menarik’ fenomena ini mungkin sudah menjadi pakem dunia kerja di Indonesia atau semacam kesepakatan bawah meja para pembesar-pembesar bisnis kita. Lantas, apakah itu bisa disebut tindakan disikriminatif atau bukan bro? kalau ya, kenapa kalimat itu masih berseleweran diamana-dimana,? Komnas HAM koq diam aja? Sibuk kali ya ngurusi HAM di Papua. 

Terus kalaulah itu bukan perbuatan diskriminatif kenapa dampaknya sangat menyakitkan. Sakitnya tu disini Bro,dada sebelah kanan.  

Sebut saja Hartini, temanya dari temanku, lulusan terbaik sewaktu kuliah. Wajahnya memang bukan tipe warga MeCh...sensor tapi otakny moncer, jurusan Ekonomi Bisnis lulus dengan predikat cumlaude. Cerita punya cerita, Hartini sempat minder ketika diajak teman-temannya untuk melamar pekerjaan di salah satu perusahaan swasta yang terbilang bonafide. 

Hartini memang tidak menyebut alasan kenapa Hartini ogah ngelamar tapi menurut temanku, Hartini minder karena poin keenam yang mencantumkan “Berpenampilan Menarik” waktu itu untuk formasi Marketing Eksekutif hingga Hartini urung menulis lamaran walau Ia berminat.

Artinya, kalimat ‘Berpenampilan Menarik’ sangat menyakitkan bagi Hartini dan membuat Ia gagal sebelum bertarung. Hartini mundur bukan tanpa alasan, anggapnya syarat keenam itu bisa jadi syarat utama karena Ia pengalaman soal itu. Sebelumnya lamaran Hartini juga pernah ditolak dengan alasan yang sama soal penampilan. Kejam Bro..sampai disini diskriminatif nggak? 

Nasib apes juga melanda seorang cewek manis tetangga kantorku atau lebih pasnya ‘markasku’, hebat kali uda jadi kantor..kan satpamnya nggak ada. Nama lengkapnya Vivi Adelia Putri, sayang namanya tak seindah anugerah tuhan kepada Raisa, Luna, atau Adele sang penyanyi kenamaan itu. 

Vivi tamatan salah satu SMK di Kota Bengkulu, nggak nanggung-nanggung Ia pandai berkomunikasi, bicaranya luwes, tertata dan penuh sopan santun. Keyakinanku Vivi cocok banget kalau untuk posisi marketing yang butuh sedikit ngibul (pintar bicara maksudnya) Sorry ya teman-teman marketing. Kalian luar biasa tanpa loh semua nggak ada perusahaan bisa hebat. Walau kadang-kadang nasib kalian tak seindah jabatan direktur. 

Vivi sempat berkirim lamaran ke markasku tapi sayang tempatku kerja belum nampung karyawan baru. Alternatif… Aku sempat tawarin Vivi ke perusahaan teman yang kebetulan lagi butuh karyawan baru. Kusodorkan brosur digital ke Vivi “Open Recrutmen, Eksekutif Marketing bla…bla..bla…Berpenampilan Menarik, SMART.” Mukanya langsung berkerut, “Kelak bae bang, kalau tempat abang buka kabari ajo” kata Vivi

Aku membatin, “Ini temanku kurang ajar juga, sok-sokan cari karyawan cantik perusahaanmu kembang- kempot gitu, pakai syarat SMART lagi, beruntung orang mau kerja” pikirku dalam hati, emang mau cari SPG rokok apa? Vivi kini masih betah sebagai karyawan di salah satu Toko di Penurunan, tenaga administrasi. Keyakinku Vivi memiliki potensi lebih hebat karena minder bakatnya nggak keluar. 

Selama embel-embel itu tetap tercantum dalam syarat pekerjaan selama itu pula rekan-rekan bro sekalian yang tidak diberikan anugerah berpenampilan menarik jadi nggak PD-an. Mereka tak kan berani menyodorkan lamaran walupun teman Bro yakin 100 persen memiliki skill yang lebih baik untuk sesuatu iklan pekerjaan.

Bentuk fisik adalah anugerah yang maha kuasa, berdosa bagi mereka yang coba-coba edit. Walau sebagian orang  bilang ‘Berpenampilan Menarik’ atau dalam makna blak-blakan kalimat itu sama dengan ‘cantik’ dan ‘ganteng’ yang juga sering disebut relatif. Jelasnya, kalimat itu sangat menggangu dan disebut diskriminatif di bangsa sekuler sekalipun. Entahlah negara kita yang katanya menjunjung tinggi HAM? 

Reporter/Penulis: Riki Susanto
Editor: Freddy Watania