Dilematika Dunia Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19

Sukamdani

Oleh Sukamdani, M.Pd.I*

Hampir semua negara-negara di dunia menghadapai ancaman virus yang sangat mengancam keberlangsungan hidup manusia saat ini. Kondisi ini membuat semua sektor tatanan kehidupan masyarakat suatu bangsa menjadi tidak menentu akibat penularan virus yang sangat cepat, tak terkecuali dunia pendidikan hampir seluruh kampus di dunia tidak bisa menjalankan aktifitas perkuliahan seperti biasanya. Sekolah-sekolah mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA tidak bisa menjalankan pembelajarannya di dalam ruang kelas. Berbagai metode pembelajaran ditawarkan agar proses perkuliahan dan pembelajaran bisa tetap berjalan ditengah wabah yang menjangkit ini, hingga saaat ini belum ada metode yang memadai dalam menjalankan aktifitas pembelajaran yang efektif, efisien untuk keberlangsuangan pendidikan yang berkualitas di tengah wabah covid-19.

Sudah hampir 3 bulan para siswa belajar secara daring/online, barangkali untuk para guru dan siswa di perkotaan tidak terlalu banyak mengalami kendala dalam menerapkan proses Kegiatan Belajar Mengajar melalui daring/online tapi bagi sekolah yang berada di pelososk-pelosok desa tentu KBM secara daring ini banyak kendala terutama akses internet dan fasilitas pembelajaran lainnya. Sistem pembelajaran secara online ini menuntut siswa belajar secara mandiri serta membutuhkan fasilitas dan sumberdaya yang memadai. Tak sedikit sekolah yang tidak bisa menjalankan metode pembelajaran jarak jauh tersebut, ada banyak sekolah yang meliburkan proses pembelajaran selama wabah covid-19 ini.

Orang tua sangat berharap anak-anaknya bisa menjalankan aktifitas belajar seperti sedia kala namun, disisi lain ada kekawatiran mereka terhadap penyebaran virus ini ke anak-anak mereka, para orang tua dituntut utuk menjadi mentor bagi anak-anak mereka dirumah. Hal ini mungkin bisa turut membantu suksesnya pembelajaran secara daring namun, persolannya tidak semua orang tua punya kapasitas dan waktu untuk membantu anak-anaknya belajar. Entah apa yang akan terjadi nanti terhadap pendidikan kita, pemerintah dituntut untuk bisa mencari formula bagaimana dunia pendidikan kita bisa berjalan dengan baik dan berkualitas.

Memang proses pembelajaran PJJ (pembelajaran jarak jauh) bisa menjadi solusi meskipun masih dipandang kurang efektif dan ada konsekuensi bagi orang tua yang berpenghasilan menengah kebawah karena harus didukung dengan fasilitas semisal HP android atau laptop. Belum lagi harus mengeluarkan biaya akses internet status kouta internet harus dipertimbangkan, belum lagi daerah-daerah yang akses internetnya belum terjangkau tentu nanti ada ketimpangan antara sekolah yang berada di perkotaan dan di daerah pedesaan. Ada daerah yang tidak memiliki akses internet sama sekali, ini semua juga harus menjadi pertimbangan yang mesti diperhatikan oleh pemerintah. Andaipun semua ini nanti diberlakukan semua ini harus dilakukan dengan cermat dan dengan catatan kurikulum yang jelas serta  perlu penyederhanaan kurikulum pendidikannya.

Sebenarnya guru lebih cenderung mengajar bertatap muka dari pada secara daring karena kebiasaan selama ini yang mereka lakukan belajar dengan tatap muka, baik dikelas maupun di luar ruang kelas. Sangat tidak mungkin institusi pendidikan bisa menciptakan karakter siswanya jika pembelajaran tidak dengan bertatap muka. Sementara konsep pembelajaran secara daring ini masih dipandang baru oleh para guru tentu banyak mengalami kendala terkhususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di pelosok, pembelajaran secara daring/online ini sangat tidak efektif. Dibeberapa daerah pembelajaran secara daring ini tidak bisa diterapkan sama sekali, guru menggantikan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa perminggunya. Sungguh sesuatu yang berat harus dikerjakan guru karena harus mengantarkan lembaran tugas ke rumah siswa untuk dikerjakan di rumah.

Harapan kita semua adalah jangan sampai nasib pendidkan generasi bangsa diabaikan dimasa pandemi covid 19 ini, karena pendidikan sama pentingnya juga dengan kesehatan dan ekonomi. Kesemuanya berdampak pada kesejahteraan masa depan anak. Selanjutnya perlu juga kita fikirkan dampak psikis bagi anak ketika proses belajar dirumah terus menerus, ketika tidak ada kegiatan2 yang positif dilakukan.

Jika nanti sekolah-sekolah dibuka oleh pemerintah maka harus ada kematangan kesiapan sekolah melaksanakan New Normal dengan protokol kesehatan karena membuka sekolah di masa pandemi  covid 19 saat ini adalah pertaruhan besar bagi kita semua. Jika harus belajar secara daring maka hal-hal seperti fasilitas akses internet, biaya penggunaan data internet harus menjadi pertimbangan bagi pemerintah.

Bagaimanapun kondisinya reformasi pendidikan memang harus dilakukan di tengah pandemi covid-19 karena ini menyangkut persoalan kualitas pendidikan serta hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak bangsa. Sebagaimana telah dimandatkan dalam UUD 1945. Semoga Covid-19 ini secepatnya bisa teratasi oleh bangsa kita. 

*Penulis adalah Ketua Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bengkulu, Tokoh Muda Pendidikan Bengkulu, Peraih Penghargaan DAAI Inspiration Award Bidang Pendidikan 2018, Peraih Penghargaan Pemuda Inspirasi Bidang Pendidikan 2019  oleh Bengkulu Youth Forum