Vote Elfahmi: Sembako Politik Berakhir Emosi

Elfahmi Lubis

Ketika sembako di tengah wabah menjadi isu politik dan kegaduhan gerbong antar sporter. Sarkasme dan saling sindir menjadi bersileweran di dunia maya walaupun tidak linear kondisinya dengan dunia nyata. Sesuatu yang lumrah, berbeda spektrum politik dan pikiran pada level wacana digital, tetapi teman bahkan sekutu (sendikat) dalam level dunia nyata. 

Itulah pikiran dan libido politik, dia hanya bermain pada kurva aktualisasi diri pada teori hierarki kebutuhan Basic Need Moslow. Namun, ada yang secara psikologis tenggelam dalam pusaran isu dengan menunjukkan gejala emosi atau baper meminjam istilah generasi Z. 

Bahkan dalam dosis yang lebih tinggi akan muncul gejala psikomatis yaitu kondisi psikologis yg merasa kecemasan berlebihan sehingga terkadang memunculkan perilaku marah dan secara secara membabi-buta melakukan serangan pada wilayah off-side yaitu privacy/pribadi. 

Itu secara klinis politik, setidaknya disebabkan oleh sydrom takut kalah dan atau karena penyebab klinis bawaan. Ah kayak analisis ahli jiwa saja, tetapi nggak apa-apa biar lebih menyentuh syukur-syukur sampai ada yang menangis.

Namun, ada juga  di dalam psikologi politik orang  yang mengidap "sekunder confidence", merasa percaya diri karena punya kuasa lebih tinggi satu stage dalam piramid kekuasaan. 

Mengapa saya katakan secunder confidence, karena riil nya ia juga galau dan mengalami kondisi psikologis yang psikomatis juga, yaitu bayang-bayang atau siluet kekalahan dalam konteks politik dan atau mungkin dalam pusaran emosi publik. 

Namun, ia tertolong oleh imun pribadinya, karena mampu mempersonifikasi dirinya lebih soft, santun, untaian kalimat oral yang sistematis dan cenderung teoritis. Sementara rivalnya melawan dengan personifikasi emosi dengan cara  mengusik wilayah ritual pada emosi  publik.  

Akibatnya, muncul dalam perilaku nyata dan virtual, "dia menutup masjid, aku menutup lokalisasi" dan "dia road show pangan lintas batas, aku road show masker lintas wilayah". Lho...lho... Kok udah sejauh ini ngelanturnya, tapi nggak apa-apa minimal saya udah ajak publik semua ikut dalam narasi emosi dan rasio, yang mungkin ngaco atau tak miliki basis akademis sedikitpun.

Kalau boleh protes, saya pertama kali mengangkat tangan mengajukan interupsi. Mengapa wabah Covid-19 terjadi bersamaan waktu dengan sedekah politik di negeri ini. Akibatnya, antara melawan pandemi dengan merebut tahta jadi campuraduk, dan lagi-lagi akhirnya rakyat "tercekik" di tiang kemeralatan. 

Panjang umur perlawanan, dan yang tidak murni terbakar mati. Badai pasti berlalu, suksesi memberi asa

Penulis: Elfahmi Lubis, Kresek Rakyat