Pilih-Pilih Berantas Maksiat

Pilih-Pilih Berantas Maksiat

InteraktifNews – Pemerintah Kota Bengkulu akhir-akhir ini giat menertibkan tempat hiburan malam yang beroperasi di Kota Bengkulu. Dimotori Wakil Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi, Pemkot setidaknya sudah menutup satu tempat karoke Alexsis di Simpang Polda Bengkulu dan satu tempat refleksi Octupus yang beroperasi di Mega Mall. Kedua tempat itu ditutup lantaran melakukan aktifitas yang tidak sesuai perizinana seperti menjual miras dan tempat transaksi wanita malam.

Tidak hanya itu, pemkot juga juga gencar menertibkan warung reman-remang yang berseleweran di Kota Bengkulu, termasuk di terminal Betungan dan Sungai Hitam. Terakhir, Satpol PP Kota melakukan razia di tiga tempat karoke keluarga, Ayu Ting-Ting, Inul Vizta, dan Triple Z dan satu tempat penginapan, Royal Hotel. Hasil razia Satpol ditemukan belasan perempuan malam dan Miras. 

Kebijakan itu diapresiasi masyarakat dan berharap terus berlanjut serta terus dirasakan mafaatnya bagi warga Kota Bengkulu. Sehingga dambaan Kota Bengkulu religius sebagaimana misi pasangan Helmi-Dedy dapat terwujud. 

Penelusuran media ini, diluar tempat hiburan diatas, hampir seluruh tempat karoke dan club malam di Kota Bengkulu dekat dengan minuman keras dan perempuan malam. Sebut saja karoke OM yang terletak di salah satu pusat keramaian di Kota Bengkulu. Tempat karoke yang baru saja berubah nama ini  menyediakan paket karoke yang cukup unik, mirip dengan karoke Aleksis yang baru saja ditutup pemkot.
 
Tiba di karoke OM, pengunjung akan disambut receptionis yang ramah, di lobby karoke biasanya duduk beberapa orang perempuan yang berpakaian minim. Harga per jam karoke ditawarkan cukup bervariasi, untuk room large kapasitas 8 orang pihak manajemen mematok harga 85 ribu per jam. Ada juga room small dengan kapasitas 4 orang harga yang ditawarkan cukup murah. 

Karoke OM juga menyediakan paket khusus dengan harga yang dipatok cukup mahal, 1,8 juta. Kalau pelanggan ingin memsan paket ini akan disuguhi fasilitas berupa 1 room karoke dengan durasi 2 jam serta sebotol minuman alkohol dengan kadar tinggi dan cukup ternama di kalangan tertentu, kebanyakan disebut BL. Produk minuman keluaran Jhonnie & Walker itu berkadar alkohol diatas 20% dan termasuk dalam minuman alkohol golongan C. 

Salah seorang sumber media ini menyebutkan, ditempat karoke OM juga menyediakan wanita Pendamping Lagu (PL) yang bisa dipesan diam-diam via waiters atau pelayan room.“tinggal kita bilang aja sama waiter tapi kebanyakan orang bawak cewek sendiri” Katanya

Setali tiga uang dengan salah satu club malam yang terletak di Pantai Panjang Kota Bengkulu, ML. Club paling masyhur di dunia gemerlap Bengkulu itu sepanjang malam menyuguhkan musik DJ (Disc Jockey) bervolume tinggi, mirip tempat-tempat dugem di ibu kota. ML biasnya mulai buka jam 9 malam dan tutup menjelang adzan subuh, tergantung pengunjung. 

Saat memasuki club yang terletak di kawasan wisata ini, biasanya sudah berjejer kendaraan pengunjung baik roda empat maupun roda dua, tergantung waktu kunjungan. Biasanya club ramai diatas jam 12 malam. Saat jurnalis media ini mencoba berkunjung pada 7 Februari 2019 sekira pukul 1 pagi, club nampak sudah ramai dengan kendaran bahkan beberapa mobil sudah terparkir diluar halaman.

Sesampai di club, pengunjung akan memasuki pintu pertama yang dijaga  4 sampai 5 orang security berpakain lengkap. Biasnya kalau tamu belum dikenal akan diperiksa namun kalau sudah akrab biasa pengunjung langsung dituntun menuju kedalam.  

Usai melewati pintu pertama, pengunjung bisa langsung menuju pintu utama yang ketika dibuka langsung terdengar dentuman musik khas club malam. Ruangan utama di-desain memanjang berukuran sekira 15 x 40 Meter. Di ruangan sudah berjejer sofa tempat duduk untuk pengunjung dengan bermacam-macam kapasitas. Setting ruangan cukup menarik, dibuat 3 lajur memanjang dengan masing-masing lajur kiri dan kanan yang lebih tinggi dari lantai lajur tengah.

Bila pengunjung memilih duduk di sofa maka diwajibkan pesan minum kecuali pengunjung hanya ingin ‘berdansa’ biasanya pihak manajemen tidak mewajibkan pesan minum. 

Lajur kiri lebih unik lagi, kalau pengunjung ingin duduk di lajur ini diwajibkan pesan minuman yang berkadar alkohol lebih tinggi atau paket sendiri yang disediakan pihak manajemen. Mungkin lajur kiri dimaksudkan tempat duduk VIP sehingga biayanya juga lebih mahal. Tempat duduk yang disediakan juga cukup nyaman rata-rata berbentuk sofa berbahan lembut. 

Masih seputar ruangan, paling depan terdiri dari tempat DJ dan sound system dan pelataran berukuran sekira 4 x 4 meter yang diperuntukan bagi pengunjung yang ingin berjoget lebih dekat dengan sumber musik. Di pojok kanan tersedia bar yang dijejer kursi ala cafe dan beberapa orang yang bertugas melayani pengunjung, Bartender. Di belakang Bartender juga terdapat partisi yang mirip almari berbentuk minimalis, diatas partisi itu berjejer botol-botol minuman beralkohol yang nama-namanya juga asing  bagi jurnalis media ini.

Saat jurnalis dan tim berkunjung, kami memilih duduk di sofa di lajur kanan dengan tempat duduk yang berbentuk L dan langsung disambut pelayan dengan penuh ramah “duduk, duduk bang” ujar Sang Waiter. Kami pun memutuskan untuk memesan satu botol BL berikut sebotol minum ringan pencampur. Kami juga ditawari perempuan pendamping namun salah seorang teman bilang, “nanti aja mas” katanya ke Waiter. Selang sesaat minuman yang dipesan pun tiba lengkap dengan sekotak tisu.

Sepanjang 2 jam lebih tidak ada sajian lain dari pihak manajemen ML kecuali dentuman musik DJ yang memekakan telinga. Begitu juga dengan pengunjung yang pada malam itu cukup ramai, hanya berjoget dan menikmati minuman. Ada yang berjoget di tempat duduk sambil memeluk teman perempuannya, ada juga yang berjoget di pelataran depan sambil berteriak mengikuti irama musik.

Peredaran minuman beralkohol sebenarnya sudah diatur secara tegas dalam Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 3 Tahun 2016 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Pada perda jelas menetapkan kriteria siapa saja yang dapat mengedarkan, menjual, dan mengkonsumsi minuman beralkohol.

Perda juga mewajibkan memiliki izin dari wali kota bagi siapa saja yang ingin berkaitan dengan minuman beralkohol. Untuk penjual langsung wajib mengantongi SKP-A dan SKPL-A yang hanya boleh menjual alkohol golongan A yaitu berkadar alkohol dibawa 5%. Sedangkan untuk penjualan minuman beralkohol golongan B dan C dengan kadar alkohol lebih dari 20% wajib memiliki SIUP-MB.

Menurut perda itu, minuman beralkohol golongan A,B, dan C hanya dapat dijual di hotel berbintang, dan bar serta restoran bertaraf internasional, setelah mengantongi izin. Berbeda dengan tempat karoke yang menurut pemkot tidak diperbolehkan menjual minuman beralkohol.

Disampaikan Kakan Satpol PP, Mitrul Ajemi pemkot tidak pernah memberikan izin penjualan minuman beralkohol untuk café dan tempat karoke. Dalam lembaran Tada Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) pemkot tidak pernah mengizinkan jual beli minuman beralkohol. Menurut Mitrul, yang boleh menjual minuman beralkohol hanya hotel berbintang itupun kalau sudah mengantongi izin. 

“yang namanya alkohol berapun kadarnya tidak boleh dijual, sebab kita tidak pernah mengeluarkan izin alkohol” Kata Mitrul, dikutip rakyatbengkulu.com 

Kondisi inilah kemudian mendapat sorotan dari masyarakat. kebijakan pemkot dipertanyakan karena terkesan tebang pilih dalam pemberantasan maksiat, lebih lagi disinyalir berlaku bagi pihak-pihak yang ‘ditarget’ saja. 

“kita apresiasi kebijakan pemkot yang ingin menjadikan Kota Bengkulu religius melalui penertiban tempat-tempat yang berpotensi maksiat tapi yang kita sayangkan pemkot nampak pilih-pilih dalam mengambil tindakan, saya kira sudah rahasia umum seluruh tempat hiburan di Kota Bengkulu terutama karoke dan tempat club malam pasti bersentuhan dengan wanita malam dan minuman keras, tapi nampak sekali dipilih-pilih” Kata Zunarwan Hadidi, Koordinator Kajian Kebijakan Strategis Konsorsium LSM Bengkulu.

Dijelaskan Dedi, pemkot harusnya berorientasi pada rasa keadilan dalam memperlakukan pelaku usahan di bidang hiburan malam. Jangan sampai ada kesan tedensius dan berlaku pada pihak-pihak tertentu saja. Dedi mensinyalir ada pihak-pihak yang tidak mampu disentuh pemkot karena berbagai faktor.

“ada banyak faktor mungkin soal hubungan emosional atau backing itu biasa saja terjadi, maksud saya mari berbicara fakta dan data, ada tempat-tempat yang lebih parah dan murni dijadikan tempat maksiat justru dibiarkan dan terkesan luput dari bidikan, di sepanjang pantai panjang itu banyak club malam yang jadi tempat transaksi miras dan tempat berkumpul wanita malam. Silahkan saja dicek, kita bisa kasih refrensi kalau dibutuhkan. Terus ada beberapa tempat karoke yang bertema keluarga justru jadi tempat mangkal wanita malam dan penjualan miras” Kata Dedi

Saran Dedi, apabila kebijakan pemkot benar untuk mewujudkan Kota Bengkulu bebas dari maksiat jangan reaktif yang kemudian dapat disimpulkan sebagai pencitraan belaka. “apapun kebijakan pemkot harus adil jangan tebang pilih, itu namanya suka tidak suka bukan didasarkan pada realita dan fakta yang sebenarnya, ayo sama-sama kita bongkar kita siap dampingi” Tutup Dedi

Reporter : Riki Susanto
Editor : Alfridho AP