Perempuan dalam Ruang Narkoba

Politeknik Negeri Jakarta

Oleh: Hairunnisa Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Prodi Jurnalistik

Masalah Narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) kini telah menelan banyak korban. Menurut Joyce S.H Djaelani Gordon dalam bukunya yang berjudul Perempuan di Balik Tirai Dunia Narkoba diterbitkan pada 2004 mengatakan, "Di tahun 1980-an, tak akan banyak anggota masyarakat di Indonesia, yang mengenal pecandu narkoba. Namun selepas tahun 2000, setiap anda melihat sekeliling, pasti anda hampir mengenali seseorang yang bermasalah dengan narkoba."

Artinya, hanya dalam kurun waktu 20 tahun, masalah ini meningkat pesat. Angka-angka estimasi statistik para pengguna narkoba di Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Di sisi lain belum banyak keahlian yang tersedia secara luas untuk menangani masalah ini. Jumlah korban yang meningkat pun tidak diimbangi dengan jumlah mereka yang sembuh dari barang "haram" tersebut.

Hanya segelintir orang yang beruntung berakhir di rumah sakit umum biasa, panti-panti rehabilitasi, dan benar-benar pulih. Sisanya, beraakhiir di rumah sakit jiwa dengan gangguan saraf, masuk penjara, gelandangan, atau meninggal karena overdosis. Penyakit lain seperti Hepatitis atau HIV/AIDS, akan menyerang si pengguna.

Siapa Saja Korban Narkoba Sesungguhnya? Sebenarnya dalam masalah ini ada korban langsung dan tidak langsung. Kepiluan yang dialami korban langsung sangat besar namun kepiluan korban yang tidak langsung juga tidak bisa di sepelekan. Langsung ataupun tidak, yang paling banyak mengalami kepiluan itu adalah perempuan. Mengapa perempuan? Ia akan memperoleh hujatan dari segala penjuru. Kalau bukan dia yang pecandu maka ia akan menjadi secara tidak langsung menjadi korban dari narkoba.

Termasuk, mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun tidak menggunakan narkoba, Seorang ibu bisa dianggap tidak kompeten dalam mengurus anaknya yg pecandu, atau seorang istri yang tidak pandai mengurus suaminya yang seorang pecandu juga. Seringkali dalam menyikapi hal-hal seperti ini keluarga menihkankan pecandunya cepat-cepat dengan harapan yang cukup naif, berharap bahwa nasib mereka akan berubah dengan lebih bertanggung jawab.

Melalui perkawinan, tak sedikit perempuan yang awalnya bukan seorang pecandu lalu tidak bisa menghentikan pasangannya untuk menggunakan narkoba dan akhirnya ikut-ikutan memakai juga. Akhirnya kehadiran penyakit HIV/AIDS menjadikan kondisi semakin runyam. Anak-anak yang lahir ditengah keluarga yang pecandu ini juga menjadi korban. Mereka harus menghadapi kegilaan ibu dan ayah yang seorang pengguna. Dalam beberapa kasus ini juga, anak putri lebih perhatian dibandingkan dengan anak putra untuk menjadi dewasa dan mengurus kedua orang tuannya dan adik-adiknya di dalam keluarga.

Ibu dan anak perempuan terkadang sering menjai korban kekerasan, beda dengan laki-laki yang selalu berada di luar rumah saat melihat kondisi keluarganya berantakan. Seperti yang dialami F, 28 tahun, laki-laki, anak korban pecandu, ayahnya sering melemparkan berbagai barang di rumahnya saat sedang sakaw, baru saja pulang dari sekolah dan masih berada di depan pagar. Ia sudah mendengar suara keras teriakkan ibunya yang dipukuli oleh ayahnya. Berbeda sekali dengan kakak perempuannya, F pergi dari rumah dengan alasan ke warung, sedangkan kakak perempuannya buru-buru masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan hidup ibunya.

Kini kita melihat dengan sisi dari perempuan yang hamil dengan kondisi aktif menggunakan
narkoba, Seperti cerita di bawah ini: 

"Gue udah hamil untuk kedua kalinya. Kehamilan pertama gagal karena pas hamil gue masih make, suami gue juga make. Pas gagal ama kehamilan pertama gue langsung cerai, karena gue hamil karena kecelakaan dan males hidup ama dia kalo bukan karna anak ini. Terus gue nikah lagi sama bule yang ngasih gue duit banyak, nginep  di hotel mewah. Tapi suami bule ini nggak pernah stay di Indo, jadi karena kesepian gue beli ganja lagi, sampai gue hamil dan berhenti, karena takut kena HIV gue test deh, eh negatif. Pas lahir anaknya gue tes eh ternyata anak gue yang positif." (J, 27 tahun, perempuan pecandu).

Anak bisa menjadi korban masa depan, yang akan menjadi korban di masa depan, yang akan mulai terlihat dampaknya sekitar 10-20 tahun lagi.

Kecanduan aktif yang dilakuka ibu semasa kehamilan akan berakibat pada kelahiran yang prematur, berat badan lahir rendah, pertumbuhan terhambat, kesulitan belajar, dll. Akibat yang berjangka panjang adalah anak bisa memiliki perilaku yang buruk, serta hiperaktiv. Penggunaan yang berkelanjutan dari seorang ibu dapat membuat anak-anak merasa ditelantarkan, kekerasan fisik, dan malnutrisi.

Lingkaran Narkoba tidak terlepas dari dua hal yang saling berkaitan. Pencandunya dan juga lingkungan pecandu tersebut berada. memperbaikki salah satu dari kedua hal ini tidaklah mudah, karena memulihkan pecandu diwarnai dengan kekambuhan yang berulang. memebrsihkan narkoba tidak menjamin gerak-gerik pemakaian narkoba di Indonesia hilang begitu saja. Akan tetapi memberikan sebuah pencerahan dan pergerakkan dengan mempublikasikan sebuah cerita dari seorang wanita pecandu mungkin akan membuat orang-orang yang hampir terjun di dunia ini sedikit tertahan dan berpikir ulang.

Kekerasan secara fisik maupun verbal merupakan kejadian yang sering mereka alami. Tidak mudah menjadi seorang perempuan pecandu nakoba, namun masyarakat lebih banyak menilai dan menudig dibandingkan membantu. Kekerasan ini mereka dapat dari orang sekitar, seperti ibu, ayah, keluarga dekat, pasangan, dan juga orang lain. Kekerasan terbesar malah muncul dari pasangan mereka sendiri, yang sebetulnya dari pasangannya itulah ia dapat mengharapkan dukungan mental dan emosional untuk sembuh dari lingkungan ini.

Mungkin kekerasan bisa menjadi awal mula wanita tersebut sebagai pecandu. Tekanan dari orang tua yang selalu menginginkan anaknya sempurna dalam segala hal, dan bersikap baik setiap waktu. Praktik agama yang tidak seimbang selama hidupnya mungkin juga menjadi faktor utama wanita tersebut menggunakan narkoba.

Setelah sembuh pun mereka tetap mendapatkan pelayanan diskriminatif dari masyarakat, pertama karena dia wanita yang kedua karena masalahnya kecanduannya dengan narkoba. Meskipun sudah selesai,  wanita tersebut tetap dianggap salahdi mata masyarakat. Seperti yang dikatakan seorang pecandu ini:

"Pandangan masyarakat terhadap wanita seperti kami, sangat membuat kami susah untuk pulih. Karena kami tidak punya dorongan untuk sembuh, hanya tekanan yang jelek saja yang ada, selalu dijatuhkan lagi, dan lagi. Pemberian informasi yang tepat kepada kami sangat membantu dan perjalanan untuk kami sembuh pun terkebuka kembali." (G, 27 tahun,  perempuan, pecandu)

Daftar Pustaka: Joyce S.H. Djaelani Gordon, Aliah B. Purwakania Hasan, David Djaelani Gordon 2004. Perempuan di Balik Tirai Dunia  Narkoba, Jakarta: Kerjasama Yayasan Permata Hati Kita, Yayasan Mitra INTI dengan Ford Foundation.