Pemimpin Menyejukkan di Tengah Pandemi

Emilda Sulasmi

Oleh: Dr. Emilda Sulasmi, M.Pd*
Covid-19 belum usai, dan kita saat ini dihadapkan dengan dinamika politik yang menguras energi dan fikiran. Pemilukada serentak ditahun 2020 akan segera dilaksanakan pada bulan Desember, itu artinya kurang lebih 3 bulan lagi Rakyat Indonesia dibeberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota akan dihadapkan dengan pesta demokrasi ini.

Ada yang berbeda tentunya, sebab kali ini dibarengi dengan situasi pandemi, sehingga dibutuhkan kehati-hatian dalam melakukan aktifitas-aktifitas politik yang meliibatkan banyak orang, dalam hal ini tentunya para penyelenggara sudah mempersiapkan petunjuk teknis pelaksanaannya.

Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah proses politik yang akhir-akhir ini disaksikan oleh banyak pihak mengenai ‘trik dan intrik’ masing-masing pihak yang diperkirakan akan menjadi kontestan.

Ada banyak ragam dan bentuk ‘trik dan intrik’ tersebut, mulai dari menggerakkan ‘influencer’ diberbagai media sosial, menyebarkan spanduk, liputan berbayar di media cetak dan elektronik, hingga saling berbalas pantun dalam merespon track record masing-masing calon kontestan yang disampaikan secara langsung oleh kandidat atau ‘tim hore’ masing-masing kelompok.

Berkenaan dengan trik dan intrik ini, agaknya perlu di lihat beberapa waktu terakhir yang menjadi diskursus di tengah-tengah masyarakat adalah mengenai hasil tes PCR/SWAB salah satu Bakal Calon yang juga petinggi di Kota Bengkulu. 

Adanya perbedaan hasil Swab antara Rumah sakit M Yunus (RSMY) dan Nasofaring dan Orofaring di Mayapada Hospital Jakarta terhadap petinggi di Kota Bengkulu menjadi tanya masyarakat dengan keabsahan sistem Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilakukan.

Hal ini menimbulkan tanda tanya dari berbagai pihak, ada yang menyatakan bahwa tudingan jika hasil pemeriksaan SWAB tersebut direkayasa terasa sangat berlebihan dan dianggap mempolitisasi karena menghilangkan hak seseorang untuk mengikuti kontestasi Pilkada 2020.

Sebaliknya juga demikian, berdasarkan press realease yang dikeluarkan tim kuasa hukum Pemkot Bengkulu, mereka meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan adanya aroma politik dibalik penetapan petinggi tersebut positif covid -19.

Diskursus ini cukup menyita perhatian, sebab hal ini tidak hanya berkenaan dengan trik dari masing-masing kelompok politik yang berkepentingan, melainkan juga berkenaan dengan situasi kebatinan masyarakat ditengah pandemi dan juga bahkan berkenaan dengan trust terhadap pandemi ini.

Sebagaimana diketahui, dampak dari pandemi COVID-19 ini sangat terasa diberbagai sektor kehidupan masyarakat. Pandemi tak hanya menghadirkan resah tentang ancaman kesehatan, tetapi juga ancaman kesejahteraan, kenyamanan sosial dan lain sebagainya.

Bagi saya, positif atau negatifnya hasil SWAB tersebut bukanlah persoalan yang krusial, sebab secara hukum tidak menghalangi yang bersangkutan untuk mencalonkan diri atau dicalonkan, hanya saja perlu kiranya untuk diperhatikan situasi psikologi masyarakat yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari trauma pandemi yang sedang dihadapi.

Ada banyak kasus yang menggambarkan pro kontra masyarakat terhadap musibah pandemi ini, sebahagian percaya bahwa situasi ini benar-benar ada, dan mereka mematuhi protokol kesehatan dalam rangka memutus mata rantai penyebarannya.

Namun, ada sebahagian yang lain meragukannya, sehingga yang muncul adalah sikap acuh tak acuh, dan cendrung tidak patuh pada himbauan dan anjuran pemerintah untuk patuh pada protokol kesehatan, jika ini yang terjadi, maka akan semakin memperlambat tuntasnya pandemi ini.

Oleh karena itulah, maka perlu kiranya untuk diingatkan kepada para kontestan baik yang sebagai calon maupun sebagai pendukung, agar dapat membangun narasi yang sejuk di tengah dinamika politik yang semakin hari semakin meningkat tensinya.

Paling tidak ada beberapa hal yang harus diperhatikan, bahwa selayaknya pada momentum pemilukada 2020 saat ini, perlu dilakukan pendidikan politik bagi masyarakat. Masyarakat perlu diedukasi untuk mencari pemimpin seperti apa dan bagaimana yang pantas dan cocok dalam situasi ini.

Sesungguhnya, yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam menghadapi masalah yang multikompleks akibat pandemi adalah kemampuan membangun talenta kepemimpinan yang situasional (situational leadership). Artinya, situational leadership adalah kepemimpinan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dengan cepat serta tetap fokus dengan tujuan yang dibuat sebelumnya, sebab situasi ini memaksa kita untuk berubah dengan cepat.

Leaders at the edge berlatih untuk mengasah ketajaman mata pikiran sehingga mampu melihat beyond obstacle dan juga mampu melihat peluang tatkala yang lain tidak mampu melihatnya.

Selanjutnya yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah Leading from the mind's eye yang selalu fokus terhadap permasalahan. Artinya, dia tidak hanya melihat satu aspek dari masalah melainkan membedahnya secara detail dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan sebuah keputusan yang holistik. Ia tajam melihat situasi namun bercabang dalam melakukan pengamatan terhadap situasi. Leaders at the edge juga membutuhkan relationship dalam membangun kesuksesannya.

Relationship di sini bukanlah hubungan dalam pengertian yang biasa kita dengar yang biasa diartikan sebagai koneksi dan networking. Hubungan di sini adalah sebuah hubungan yang mapan dan memiliki pondasi yang kuat di mana hubungan itu menghasilkan trust yang membuat kepemimpinannya berada dalam kondisi aman (secure protection).

Jim Collins dalam bukunya "Good to Great" dengan baik menjelaskan bahwa pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu membangun trust and respect dalam hubunganya dengan orang lain. Sebuah hubungan yang tidak berpondasikan kepentingan sesaat dan hitung-hitungan cost and benefit. Dengan landasan hubungan trust and respect setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin akan dengan mudah diterima oleh seluruh pihak.

Seorang pemimpin at the edge adalah juga seorang negosiator dan komunikator ulung. Seorang pemimpin yang mampu menyampaikan idea, goals, dan meaning kepada rekan satu tim dan anak buahnya. Leaders at the edge can lead through effective communication.

Effective communication tidak diukur sejauh mana kepintaran kita berorasi melainkan sejauh mana ia bisa membangun shared vision, shared meaning, dan shared goals kepada orang lain sehingga mampu membangun sebuah tim atau organisasi yang memiliki tujuan sama meski berbeda isi kepala. Kegagalan dalam membangun sebuah dialog yang efektif akan menciptakan ketidakefektifan dalam berkomunikasi karena sejatinya komunikasi selalu berjalan dua arah.

Akhirnya, kita berharap agar para pemimpin Bengkulu masa depan yang diberi amanah oleh rakyat melalui pemilukada 2020 yang akan datang, dapat menciptakan kenyamanan, ketentraman dan lebih penting dari itu adalah trust dari masyarakatnya. Mudah-mudahan bermanfaat. 

Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan ASN pada Pemerintah Kota Bengkulu