Para Tokoh Ini Bereaksi Kecam Statemen ‘Bengkulu Hancur’

Yudi Harzan

Yudi Harzan, Ketua DPD AMPI Provinsi Bengkulu, Poto:Dok

Interaktif News – Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Dempo Xler kembali membuat pernyataan kontroversi setelah sebelumnya menyebut “Mayat Bergelimpangan” terkait penanganan COVID-19 di Bengkulu. Kali ini politis PAN itu kembali membuat pernyataan yang memancing reaksi publik dengan menyebut “Bengkulu Hancur”

Pernyataan “Bengkulu Hancur” dilontarkan Dempo pada Rabu, 24 Juni 2020 yang dimuat di beberapa media online terkait  dukungan Partai Demokrat untuk Ketua DPW PAN Helmi Hasan menuju Pilgub Bengkulu. 

Beberapa tokoh-tokoh Bengkulu mengecam pernyataan itu, mulai dari kalangan tokoh muda, tokoh parpol, anggota DPD RI hingga sesepuh Bengkulu seperti Hermen Kamarsyah. 

Dikatakan Hermen, apa yang  disampaikan Dempo terlalu tedensius dan meminta politisi muda itu untuk menghentikan statmen beraroma negatif. 

“Jadi, mari sama-sama kita tinggalkan ujaran negatif yang bersifat tendensius. Keadaan Bengkulu sudah sangat kondusif dan tidak ada yang ingin menghancurkan dari pihak manapun” ujar Harmen, Kamis (25/06/2020).

Ditambahkan Hermen, umumnya masyarakat Bengkulu pun berusaha untuk memajukan Provinsi Bengkulu tanpa perlu dikotak-kotakan apalgi kedalam istilah yang berlebihan seperti kolisi Perahu Nabi Nuh 

“Jadi tidak ada yang perlu diselamatkan dari kehancuran yang bersifat ujaran negatif” saran Hermen.

Pernyataan Dempo juga memancing reaksi antar sesama politisi salah satunya politisi Golkar yang juga anggota DPRD Kabupaten Seluma Yudi Harzan.

Dikatakan Yudi, Dempo selaku anggota DPRD memiliki tanggungjawab yang lebih terhadap pembangunan daerah. 

“Kalau dia mengatakan kehancuran Bengkulu berarti dia mendeskreditkan dirinya sendiri karena DPRD bagian dari pemerintahan daerah atau memang Dempo tidak memahami tentang itu” ujar Yudi Harzan yang juga Ketua AMPI Provinsi Bengkulu

Apalagi sambung Yudi, sebagai politisi muda tidak sepantasnya Dempo mengatakan seperti itu, harusnya spirit dan optimisme membangun daerah itu digelorakan bukan membuat suasa menjadi gaduh seperti ini.

“Sampai banyak tokoh-tokoh di provinsi ini yang mengomentari pernyataan dia itu. Artinya statement dia ini melukai hati dan perasaan para senior-senior yang telah berjuang membangun Bengkulu” kata Yudi

Penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat Magdalena Mei Rosha juga menyampaikan hal yang sama. Menurut Ketua Umum Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) itu, komunikasi publik yang diutarakan Dempo telah mremehkan seluruh stakeholder di Provinsi Bengkulu. 

“Coba Dempo sebutkan hancurnya di mana dan siapa yang dimaksud menghancurkan tersebut?. Kalau mengatakan Kota Bengkulu diambang kehancuran berarti wali kota yang tidak becus ngurus Bengkulu, sebaliknya kalau provinsi bengkulu itu artinya semua kepala daerah 9 bupati dan gubernur dianggap tidak becus” kesal Rosha

Tidak ketinggalan, hal senada juga disampaikan tokoh muda yang juga mantan aktifis kampus, Atma Yuda. Menurutnya, apa yang disampaikan Dempo terlalu berlebihan dan cendurung ditujukan untuk kepentingan tokoh tertentu. 

“Memang pernyataan Dempo itu kesannya berlebihan ya. Karena ada kalimat ‘dengan tujuan untuk menyelamatkan bengkulu dari kehancuran’. Seolah-olah jika Gubernur Bengkulu ini nantinya bukan Helmi Hasan maka Bengkulu ini akan mengalami kehancuran. Padahal kan nggak gitu juga kondisinya” kata Atma Yuda, Kamis siang (25/06/2020).

Namun demikian, mantan aktivis HMI ini menilai pernyataan Dempo itu adalah hal yang lumrah terjadi dalam politik. Apalagi, situasinya saat ini memang sudah mendekati tahapan-tahapan pilkada.

“Sebenarnya, kalimat-kalimat seperti yang disampaikan oleh Dempo itu biasa muncul di tahun politik. Apalagi jika sudah mendekati tahapan pilkada. Situasinya saat ini memang sedang sangat dinamis karena masing-masing kandidat kan sedang berusaha merampungkan koalisi parpol pengusungnya. Tapi, menurut saya, memang agak kurang pas saja rasanya jika pakai kalimat menyelamatkan dari kehancuran” jelas Yuda.

Sementara itu Dempo Xler saat dikonfirmasi belum memberikan klarifikasi terkait statmennya. Pesan singkat yang dikirim jurnalis Bengkuluinteraktif.com via aplikasi Wa belum dibalas.
 
Reporter: Alfridho Ade Permana
Editor: Riki Susanto