Mutasi Kontroversi, Helmi-Dedy Pecah Kongsi?

Helmi Hasan Dedy Wahyudi

Mengejutkan, bisa saja copot jantung bagi mereka yang terlanjur tersandera di tengan fenomena jual beli jabatan. Ini bukan sekedar kabar angin, jual beli jabatan benar-benar terjadi dalam praktek mutasi di negeri ini. Entahlah! praktek itu mungkin saja terjadi ditengah mutasi “Bim Salabim” ala Pemkot yang mungkin mutasi pemecah rekor abad ini. 

Namun, soal jual beli jabatan tak menarik lagi bagi publik, tapi teka-teki dibalik layar itulah yang ingin mereka tahu. Kenapa mutasi itu dibatalkan? Apa gerangan dengan Wali Kota yang menganulir putusanya sendiri? Apakah itu pelanggaran?, Ataukah ini akhir dari kemesraan Helmi-Dedy?. Sepekulasi boleh saja berkembang akan tetapi soal kemesraan dalam tanda kutip antara Helmi-Dedy menarik untuk ditelisik. 

Setahun lalu Helmy-Dedy layak disemat sebagai kawanan penguasa paling mesra sejagat raya, layak juga mendapat rekor MURI. Bukan hanya ide tapi dalam berbagai kesempatan bahkan dalam kebijakan mereka selalu setia saling mengisi. Klimaks dari kemesraan itu ‘HD’ pun jadi ikon, dua huruf yang diambil dari huruf depan nama keduanya. 

HD begitu familiar, sampai-sampai akronim itu disemat secara eksplisit pada nama-nama pembangunan yang mungkin setengah dari karya mereka. Rumah Sakit Kota misalnya, disingkat HD walaupun HD dalam makna itu bukan Helmy-Dedy melainkan Harapan & Doa. Namun, publik tahu keduanya sedang ingin mengumbar kemesraan mereka. Bay the way nama itu tak lazim untuk sebuah RS milik pemerintah. 

Ditengah puncak kemesraan itu ‘perselingkuhan’ pun terjadi. Secepat kelebatan pedang Umar Bin Khattab, Wali Kota Helmi Hasan tiba-tiba membatalkan mutasi yang dipimpin Wawali Dedy Wahyudi. Malu bukan kepalang bagi Dedy kalaulah itu dimaknai mutasi yang Ia (Dedy) pimpin kurang cermat.

Publik sontak saja berkesimpulan, ada apa ini? Mengapa wali Kota Helmi Hasan yang terkenal jarang tampil untuk hal seperti itu tiba-tiba mengambil alih secara total. Mungkin Sang Wali Kota tak sejalan ataukah distrust dengan aktor intlektual mutasi walaupun dokumen itu Ia (Helmi) tandatangani sendiri. 

Sejalan dengan pernyataan ‘orang dekat’ Wali Kota, Teuku Zulkarnain seakan igin membenarkan ketidaksukaan Helmi dengan dalang-dalang mutasi. "Karena memang mutasi itu sepertinya tidak sesuai dengan arahan dari bapak Wali Kota, sehingga dibatalkan," kata Teuku Zulkarnain kepada RMOLBengkulu, Selasa (9/7/2019).

Pernyataan Teuku bisa juga disimpulkan, bahwa mutasi yang penuh kontroversi itu bukanlah dibidani Sang Wali Kota. Artinya, ada aktor lain yang sekaligus menjadi sutradara dibalik mutasi 334 pejabat eselon itu. 

Lantas siapa ‘sutradara’ itu? Tersurat, Kepala BKPP Drs. Sehmi menjadi korban ‘kemarahan’ Sang Wali Kota. Ia membuat keputusan serius dengan me-nonjob-kan Sehmi dari jabatanya sebagai pelaksana tugas di OPD yang menangani urusan mutasi. Sehmi pun menjadi kambing hitam dibalik kebobrokan mutasi itu. 

Namun, mengorbankan Sehmi dari jabatannya bukanlah penawar ‘fitnah’ publik. Ibarat permainan Bilyar, Sang Master bisa saja sedang menggunakan trik ngeban, memukul bola 17 untuk ‘menenggelamkan’ bola nomor 2, Wallahu a'lam.  

Redaksi