Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu

Candi Muara Takus

Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu Candi Muara Takus, Riau. Foto: Puslitbang Arkenas

Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan.

Judul tulisan di atas adalah ungkapan Indonesianis asal Prancis, Denys Lombard, untuk menggambarkan kesannya terhadap fakta sejarah kerajaan yang pernah berjaya di wilayah kepulauan Asia Tenggara pada sekitar milenium pertama era Masehi. Sebagai peneliti sejarah yang selalu terbuka dengan penjelasan berbagai ilmu lain dalam pembacaan sejarah, mendiang Lombard tentu tidak sedang mengarang bebas.

Perdebatan, sanggahan, penyangkalan, membuka cara pandang baru, membuat alternatif terhadap pembacaan sejarah yang sudah mapan, adalah lingkungan yang sangat baik bagi tumbuhnya pohon (syajaroh-arab) cerita manusia yang dibangun dari masa lalu. Keberanian untuk melakukan tafsir yang berbeda atas fakta sejarah harus dihargai sebagai tanggapan dan penerimaan (resepsi) yang sehat.

Persoalan beberapa orang atau banyak kalangan tidak sepakat dengan satu atau beberapa tafsir, hal itu haruslah disambut dengan gembira.  Jika yang lebih berpengetahuan ingin menjawab dengan tafsir yang berbeda atau lebih kuat maka terjadilah diskursus historiografi yang semestinya.

Tidak Percaya Sriwijaya Ada

Beberapa waktu terakhir, aktivis senior Ridwan Saidi mengatakan tidak percaya dengan keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Dia bilang kerajaan itu fiktif. Hal itu didasari atas argumen bahwa para ahli pembaca prasasti yang mencatat tanda-tanda keberadaan kerajaan besar di masa itu, dia nilai telah keliru.

Kekeliruan itu menurut dia karena prasasti itu ditulis dalam bahasa Armenia, sementara para ahli seperti George Coedes, hingga Boechari membaca teks itu dalam bahasa Melayu tua. Prasasti yang dimaksud oleh Ridwan Saidi adalah prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang.

Adanya keyakinan lain terhadap satu pembacaan fakta sejarah haruslah dilihat sebagai perkembangan yang wajar. Pembacaan sejarah atau historiografi tidaklah disusun atas dasar keyakinan atau keimanan. Historiografi adalah suatu cara berdasarkan metode ilmu pengetahuan untuk menjelaskan tentang apa  yang terjadi di masa lalu. Dari sini terlihat pijakan argumentasi antara pihak-pihak yang berbeda.

Para ahli seperti mendiang Boechari adalah seorang yang menempuh disiplin ilmu penelitian epigrafi atau naskah kuno yang terkenal sukar dalam kurun waktu yang tidak sebentar, sekitar 30 tahun. Dia adalah murid Poerbatjaraka yang terkenal dengan ketekunan dan ketelitian lebih dari separuh hidupnya. Sedangkan aktivis senior seperti Ridwan Saidi menempuh sebagian dasar pendidikan publisistik di Unpad kurang lebih satu tahun dan cukup lama menyelesaikan pendidikan ilmu hukum dan kemasyarakatan di UI atau FISIP UI zaman sekarang.

Dari penjelasan latar dua pihak yang berbeda tentu bisa diambil sebuah kesimpulan yang mudah. Tetapi bukan itu yang penting.

Sriwijaya dalam Bacaan Coedes

Situs sejarah populer seperti Historia.id, mempunya motto "masa lalu selalu aktual". Sementara itu, menurut penulis lebih tepat jika disebut dengan masa lalu selalu relevan. Mengapa harus relevan? Hal ini berkait dengan keberadaan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Ketika berpikir, apalagi berpikir reflektif, manusia pasti mencatat kembali apa yang telah terjadi. Saat hal itu berlangsung itulah awal mula sejarah.

George Coedes, (1886-1969) adalah seorang peminat sejarah, ahli perpustakaan, ahli bahasa-bahasa tua, tentara, pengajar hingga diplomat. Dialah yang menyusun sebuah penelitian sejarah yang menemukan kembali (rediscovering) kerajaan Sriwijaya.

Penelitian itu disusun dalam sebuah artikel yang berjudul Le Royaume de Çr?vijaya, (1918). Dalam artikel itu dia menafsirkan ulang hasil pembacaan ahli sebelumnya yakni H Kern terhadap sebuah prasasti yang ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka.

Prasasti itu bertanggal sekitar tahun 608 Saka, periodenya kurang lebih sezaman dengan prasasti Kedukan Bukit yang bertanggal 605 Saka. Menurut Coedes, Kern sedikit keliru saat membaca teks kedua yang ada di sana. Dia mengartikan kalimat itu ditujukan kepada "kepada Yang Mulia Wijaya". Padahal yang benar menurut Coedes adalah "kepada kerajaan (Kedatuan) Sriwijaya".

Dari pembacaan itulah Coedes menyusun argumentasi tentang sebuah kerajaan besar yang berjaya di paruh kedua milenium pertama zaman kini. Salah satu petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan.

Prasasti itu dinamakan Prasasti Ligor atau Vieng Sa. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dan bertahun 697 Saka atau 775 Masehi. Prasasti ini menyebutkan kata penghormatan kepada raja Sriwijaya hingga tiga kali. Yang pertama adalah Sriwijayendraraja, yang kedua adalah Sriwijayeswarabhupati, yang ketiga adalah Sriwijayanrpati.

Prasasti Ligor inilah yang membuat Coedes menemukan keterkaitan antara Wangsa Sailendra dan penguasa atau bangasawan Sriwijaya. Coedes menerjemahkan prasasti itu sebagai tanda bahwa sebuah petilasan Buddha telah dibuat di wilayah ini. Raja dari Sriwijaya dipuji sebagai rajanya para raja di seluruh wilayah. Di sebaliknya terdapat pujian bagi raja yang mengepalai Wangsa Sailendra dialah Sri Maharaja. (***)

Sumber: Indonesia.go.id
Editor: Riki Susanto