Lagi-Lagi Guru Cabuli Murid

Pencabulan Anak Bengkulu

Poto Ilustrasi oleh groundviews.org

Paling banter tertegun, sedikit elus dada, mengumpat alakadarnya dan sedikit celaka ada yang tersenyum kecil saat mendengar kabar guru cabuli murid. Tensi ekspresi psikologis ini wajar saja menurun karena kabar cabul antara guru dan murid sudah kayak kabar harga BBM yang naik turun, basi dan tidak wah.

Kemaren, kabar  yang tak lagi mengejutkan itu kembali terulang. DS, oknum guru di Kota Bengkulu yang keseharianya dikabarkan alim jadi tersangka gara-gara perbuatan ekstra asusila, guru cabuli murid sesama jenis lagi. Lebih tragis, DS sendiri bekerja di lembaga pendidikan yang menyandang predikat pendidikan agama, lengkap sudah.

Dalam 3 bulan terakhir di Bengkulu setidaknya ada 4 kasus pencabulan guru terhadap murid. Sebuah angka yang sulit dijelaskan dengan pendekatan ilmiah namun fakta itu terus berulang bahkan melebihi agenda kunker anggota DPRD. Di Seluma terjadi dua kasus, Bengkulu Utara satu kasus dan terakhir satu kasus paling tragis terjadi di Kota Bengkulu.

Belajar dari kasus berbeda “Wali Murid Marah Saat Guru Nabok Anaknya” bahkan fenomena ini sering berujung pada kasus hukum dan kios antar guru dan wali murid. Dulu, era 80-an, kalaulah murid ditabok guru, yang ada orang tua akan menambah tabokan itu. Jewer tambah jewer, kalau satu tabok Jepang yang didapat murid, orang tua juga akan menambah satu tabokan Jepang. Jarang tabokan guru untuk murid berbalas tabokan wali murid untuk Sang guru. 

Kenapa demikian, sedemikian pula hebat perubahan itu? Itulah faktanya, mungkin era 80-an guru menganggap tabokan Sang guru untuk Sang anak adalah bagian dari mendidik (faktanya demikian) sekarang bisa jadi orang tua beranggapan tabokan itu hanya luapan emosi dari Sang guru saja. 

Distrust orang tua terhadap guru bukan tanpa alasan, mereka mungkin tahu bagaimana pola rekrutmen tenaga pendidik yang sama dengan rekrutmen tenaga ketik, kalaulah untuk jadi guru butuh ijazah sarjana, tenaga ketik pun demikian. Apabila syarat menjadi guru harus berpenampilan rapi, juru ketik juga harus rapi. Tak ada beda sedangkan tugas mereka berbeda, guru akan mengurusi masa depan bangsa sedangkan tukang ketik hanya soal hari ini saja. 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan pola rekrutmen profesi lain seperti dokter, tentara, polisi, hakim, jaksa, dan karyawan swasta bonafide. Polisi misalnya, untuk menyandang status itu seseorang harus clear urusan psikologis. Tes masuk polisi harus disertai dengan angka nilai psikologis yang baik dengan demikian kecenderungan polisi untuk cacat jiwa sudah clear, minimal dalam ranah administrasi-Tes kejiwan polisi bukan haya soal senjata di pinggang tapi juga untuk ‘senjata’ bawakan. 

Sedangkan untuk menjadi guru sama sekali tidak memiliki standarisasi psikologis yang jelas. Menjadi guru tidak mesti punya kondisi jiwa baik karena syarat tidak menyebut demikian, siapa tahu guru kita dimasa depan bukan hanya terlibat pencabulan pada murid namun beradegan threesome dengan murid. Kasihan pada mereka yang benar-benar  guru (mendidik dengan hati), profesi mereka yang begitu mulia harus ternoda karena kealfaan sistem pendidikan yang terlanjur kita nikmati bersama.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, tujuan pendidikan adalah memanusiawikan manusia (humanisasi). Dalam konsepnya Ki Hadjar Dewantara menekankan pada aspek perbedaan antara “Pengajaran” dan “Pendidikan”. Menurutnya dua segmen itu harus dieksekusi dalam satu tarikan napas. 

Bapak pendidikan itu seolah ingin menekankan, bahwa pendidikan itu urusanya ruwet karena menyangkut fisik dan non fisik, jasmani dan rohani lebih jauh lagi soal masa depan bangsa ini. Untuk itulah tak sembarang orang bisa disebut guru (pendidik) kecuali cuma berlabel guru tapi berotak cabul, kampret, cebong, bejat, dan…ah…sudahlah. 

Redaksi