Kuda-Kudaan Jelang Pilgub

Patung Kuda Bengkulu

Poto Ilustrasi/Net

Hahahahahhaa....begitu kata Sang Wali Kota saat disuguhi pertanyaan ‘nakal’ terkait rencana Pemprov Bengkulu hibahkan 1,4 miliar untuk bantu konflik SD 62 Kota Bengkulu. Sebuah narasi penuh misteri, bisa berarti lucu karena "hahahahaha" adalah lisan jenaka yang keluar saat otak tersindrom jaringan saraf kebahagian. Demikian pula sebaliknya, mungkin saja bermakna Cemoh karena lisan tidak selalu bermakna fonetik tapi konteks juga bisa menjadi faktor dominan dalam makna.  

Dua hari lalu (10 Agustus 2019), Balai Kota kembali merilis narasi ‘perang’ dengan membuat statmen sanggah yang liar hingga seantero jagat maya menjadi heboh “Pemkot Tidak Pernah Menurunkan Patung Kuda” demikian judul rilis pemkot untuk menjawab kegelisahan netizen yang beredar di media sosial karena Patung Kuda hilang. Sontak saja rilis pun digoreng ramai-ramai oleh para peggiat kabar hingga menjadi tranding topik.

Isu Nasi Kebuli ala Sang Wali Kota pun hilang. 440 Nampan Nasi Kebuli yang terkenal lezat itu harus disantap tanpa rasa. Iskandar ZO Kadis Sosial Pemprov Bengkulu sekaligus Jubir pemprov (masalah patung) membantah seluruh argumentasi pemkot yang dituangkan pemkot dalam rilis. Pemprov pun membocorkan selembar kertas ber-kop pemerintahan yang berbubuh tandatangan H. Helmi, Pemkot sudah setuju soal kuda. 

Dibalik Panggung, elit membahas isu itu dengan cara rapat diperluas. Beberapa lapak obrolan komunitas melek politik menyimpulkan masalah tersebut pada kata ‘politik’ yang memang sering menjadi simpulan akhir dari sesuatu klausal masalah. “Itu Soal Pilgub” begitu ucapan yang ramai terdengar. Publik memperluas isu kearah pilgub haruslah dimaklumi karena memang provinsi ini tak lama lagi akan menggelar pilgub. Kata KPU September mendatang tahapannya bakal dimulai.  

Lantas apa sambungnya pilgub dengan patung kuda yang dicopot kemudian diganti dengan patung ibu negara pertama, Fatmawati.? Itulah hebatanya politik, selembar daun jatuh pun bisa menjadi wadah untuk menampilkan ‘orasi kerakyatan’ apalagi sekelas Patung Kuda yang memang menjadi pusat perhatian. Bagi penganut mazhab politik kekuasaan setiap peristiwa adalah election effect namun tidak bagi mereka penganut politik moderat yang menampilkan karya sebagai wadah election effect

Pada kasus Patung Kuda, pemprov seolah sedang menganut ideologi permainan bola ala Italia yang defensif sedangkan pemkot sedang membuat permainan atraktif ala Inggris dan sejarah mencatat permainan bola ala Italia telah menghantar negara itu 4 kali juara dunia sedangkan Inggris hanya sekali. Kalaulah pilgub ibarat sistem kompetisi dalam permainan bola maka kuda-kudaan jelang pilgub akan terus berlanjut. 

Redaksi