HOBI bercocok tanam sejak kecil dan tumbuh dalam lingkungan mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani, menjadikan sosok Aipda Walid Bayu Setiawan, Bhabinkamtibmas Desa Lingga, Polsek Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan lihai merawat berbagai tanaman sayur mayur dan palawija. Ada yang ditanam langsung di pekarangan dan ada juga melalui sistem hydroponik.

Berkat tangan dinginnya itu, penduduk Desa Lingga dan warga Kecamatan Lawang Kidul kini tak lagi kesulitan mendapatkan sayuran untuk konsumsi sehari-hari.

Hobinya membagikan sayuran gratis pada penduduk membuat dirinya mendapat julukan polisi sayur.

Bagaimana kisahnya? Berikut laporan Dedi Hardiansyah Putra – Lawang Kidul, Muara Enim

Tak hanya aktif sebagai personel polisi yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Aipda Bayu juga memanfaatkan waktu luangnya bercocok tanam sayur mayur dengan sistem hydroponik di pekarangan rumahnya.

Tangannya begitu terampil menata dan memindahkan bibit kangkung, sawi, pakcoy, bayam dan seledri dari penyemaian ke media tanam yang menggunakan pipa paralon.

Pada bagian lain, terlihat warna hijau menggoda menunjukkan berbagai jenis sayuran itu sudah siap dipanen.

Uniknya, hasil panen sayuran yang dilakukannya tiap pekan itu dibagikannya gratis pada warga desa binaanya dan penduduk sekitarnya

“Insyah Allah setiap minggu panen. Hasilnya saya bagikan gratis buat warga. Ada yang datang langsung ke sini, ada juga yang saya antarkan ke rumah-rumah, khususnya

bagi warga yang kurang mampu,” ujar Bayu, sapaan akrabnya, Minggu (7/12/2025).

Hobi jadi Solusi

Ia mengkisahkan, awal mula dirinya menekuni dunia hidroponik sejak masa pandemi covid-19.

Kebijakan pemerintah yang membatasi aktivitas sosial warga, membawanya kembali menekuni hobi masa kecil di tanah kelahiran, Kota Pagaralam. Saat itu, ia mencoba menanam di pekarangan, hanya saja lantaran tanah yang kurang subur dan kondisi cuaca panas, karena berada pada kawasan penghasil batubara menyebabkan berbagai bibit itu gagal tanam, mati.

“Mungkin karena tanahnya kering dan panas jadi pada gagal tanam. Saya konsultasi dengan teman di Pagaralam, disarankan menggunakan metode hidroponik. Alahamdulillah sampai sekarang terus berlanjut.,” jelasnya.

Kegemarannya menanam, membuat dirinya rajin menyisihkan gajinya untuk menambah instalasi hidroponik di pekarangan dan rooftop kediamannya.

Seiring rimbun dan hijaunya pekarangan rumahnya dangan berbagai sayuran, membuat hasil panen melimpah dan dibagikannya secara cuma-cuma pada warga.

Aksi bagi-bagi sayuran gratis yang dilakukan Aipda Bayu itu sangat membantu warga, karena selama ini, untuk menikmati sayuran warga sekitar harus menunggu pasokan dari Pagaralam dan harus mengocek saku cukup dalam hanya untuk menikmati sayur mayur.

Giat Kampanyekan Ketahanan Pangan

Aipda Bayu bersama personel Polsek Lawang Kidul juga gencar berkampanye memanfaatkan lahan dan pekarangan untuk ketahanan pangan.

Tak hanya rutin membagikan bibit sayur dan

palawija secara gratis. Ia juga membuatkan rak-rak dan peralatan hidroponik yang biayanya ia ambil dari kantong pribadinya untuk beberapa kelompok petani perempuan yang menjadi binaanya.

Aksinya gemar membagikan sayur hasil panen dan bibit secara gratis membuat ia dijuluki “Polisi Sayur”.

“Alhamdulillah niat baik saya diterima suka cita warga sini. Senyum gembira ibu-ibu menerima sayur segar membawa kegembiraan batin bagi saya, meski saya dijuluki polisi sayur. Menariknya, sekarang warga senang menanam,” ia menuturkan.

Langkah kecilnya itu, juga menginspirasi warga lainnya untuk belajar dan menseriusi budidaya sayur mayur dengan metode hidroponik.

Ia tak pelit ilmu, bahkan ia langsung membimbing dan mempraktekan tata cara hidroponik yang benar.

Upaya Preventif Cegah Kriminalitas

Aipda Bayu menjelaskan aksi berbagi sayuran gratis itu, juga sebagai upaya menjalin dan menjaga hubungan emosional antara polisi dan warga. Sehingga menjadi langkah preventif mencegah terjadinya kriminalitas di lingkungan Lawang Kidul, khususnya di Desa Lingga.

Ia menjelaskan dari teori Community Policing, rasa aman adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang harus menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Nah pendekatan-pendekatan persuasif ini, menurutnya sangat penting daripada sekedar patroli formal.

“Pepatah lama menyebutkan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban, harus ada hubungan emosional yang baik antara warga dan polisi. Saat saya memberikan sayur, maka ada dialog. Saya mendengar keluhan mereka, dari soal keamanan desa hingga

masalah ekonomi. Pada kesempatan itu juga saya sampaikan pesan-pesan Kamtibmas, sehingga masuk pada warga dengan cara lebih natural tanpa menggurui,” ujar pria kelahiran 1 September 1985 itu.

Apa yang dilakukan Aipda Bayu adalah sisi lain dari korps Bhayangkara, bahwa cara terbaik untuk mengabdi pada negara adalah dengan memastikan dapur warga tetap mengepul dengan sayuran sehat.

Ia menunjukkan pengabdian polisi tidak terbatas pada police line atau borgol, melainkan bisa tumbuh subur di dalam lubang-lubang paralon, mengalir bersama air, dan bermuara pada kesejahteraan warga binaannya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Feni Yulia Novika (43) menuturkan aksi bagi-bagi sayuran gratis oleh Aipda Bayu membuatnya terharu. Bukan saja membantunya dirinya mendapatkan bahan pangan dengan mudah, namun juga membuat keluarganya bisa berhemat.

“Sayur yang dibagikan pak Bayu segar-segar, bersih dan gratis. Jadi saya bisa hemat. Jarang ada polisi seperti pak Bayu,” ungkap Feni.(*)

Penulis: Dedi HP