Degradasi Wibawa Mahasiswa

Ricki Unib

Oleh : Ricki Pratama Putra*
Sejarah mencatat bahwa keberlangsungan negara itu tak luput dari peran seorang pemuda. Baik sebelum kemerdekaan atau pun sesudahnya. Peran itu terbukti dengan coretan tinta emas yang ditorehkan oleh para pemuda (mahasiswa) di negeri ini. Keterjajahan dijawab dengan kemerdekaan, orde lama diganti orde baru, orde baru di ganti reformasi. Akhirnya dilekatkan suatu atribut-atribut sosial seperti agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen sosial kontrol) dan lainnya.

Mahasiswa dengan sikap kepemudaanya, dengan keberaniaanya, sikap kritis, intelektualitasnya tak ayal jika mampu melakukan suatu pergerakan yang bisa menjaga dan meneruskan marwah suatu gerakan-gerakan para pendahulunya. Hal ini dapat kita lihat dengan masih adanya sekelompok mahasiswa yang memerjuangkan nasib rakyat. Meskipun dengan cara lama seperti para pendahulu, yakni demontrasi.

Dewasa ini pun, sedang marak terjadi aksi demontrasi dari mahasiswa. Ada banyak hal yang mendasari terjadinya, mulai dari permasalahan internal kampus, hingga urusan berbangsa dan bernegara. Tak ada yang salah dengan turun kejalan atau demonstrasi, saya pun begitu bersemangat untuk terus turun kejalan, menyurakan keadilan, menyuarakan kebenaran. Karena memang apa yang lebih puitis dan indah kecuali berbicara soal kebenaran. Namun belakangan, gerakan demonstrasi atau aksi turun kejalan yang dilakukan mahasiswa banyak terjadi kericuhan. Bahkan mengakibatkan berjatuhannya korban baik dari pihak mahasiswa maupun tim pengamanan, sehingga seringkali aksi mahasiswa disamakan dengan gerakan premanisme dan mengancam wibawa mahasiswa sebagai seorang intelektual.

Hal– hal seperti inilah yang perlu kita renungi, bahwa wibawa mahasiswa tak boleh hancur dan runtuh dengan gerakan-gerakan yang serampangan berujung kericuhan dan anarkisme. Karena bukankah, kita selalu mengatakan bahwa turun kejalan merupakan panggilan moral, tanggung jawab moral seorang mahasiswa, seorang intelegensia dalam menyuarakan kebenaran. Akan tetapi adalah sebuah kecacatan moral apabila kericuhan itu terjadi dalam gerakan mahasiswa. Maka dari itu begitu banyak hal yang harus kembali didiskusikan dan diperbaharui mengenai pergerakkan mahasiswa agar tak lagi di labelling sebagai gerakan premanisme, anarkisme dan arogan.

Maka, kita wajib menyamakan persepsi dan mereorientasi tujuan gerakan mahasiswa secara bersama–sama. Sebuah gerakan yang bertujuan mengupayakan tatanan masyarakat agar lebih berperikemanusiaan dan rasional, serta bertanggung jawab memperbaiki nasib bangsa dalam Indonesia yang berdemokrasi. Maka tentu itu harus ditempuh dengan jalan-jalan advokasi yang benar dan berkualitas. Karena perubahan sosial itu tak akan tercapai dengan Mekanisme Gerakan Hit and Run Mahasiswa yang dengan sekali dua kali demo selesai tanpa adanya kontinuitas seperti yang saat ini mahasiswa(BEM, Ormawa dll) sering lakukan. Sehingga gerakan mahasiswa seolah-olah menjadi gerakan murahan dan bersifat formalitas yang dilakukan sebagai momen mengingat detik-detik penting ibu pertiwi. 

Hal inilah yang membuat kualitas advokasi mahasiswa itu terpuruk. Mahasiswa masih terlalu sering berdiskusi dan melakukan kajian-kajian dengan bahasa yang tinggi dan  melangit, lalu membuat statement di media yang akhirnya tak mampu berkontribusi banyak dalam mengubah masyarakat dan ketimpangan, kebodohan, dan penindasan secara struktural.

Mahasiswa sudah harus melakukan pembaruan pola gerakan, gerakan perlawanan tersebut sudah harus dikombinasikan dengan gerakan yang membangun dalam mengatasi permasalahan kerakyatan dan kebangsaan. Mahasiswa sudah harus mampu melakukan advokasi pemberdayaan dan menciptakan agenda-agenda kegiatan yang membumi dan berkontribusi banyak minimal di lingkungan sekitarnya. Serta melakukan kerja-kerja advokasi yang sesungguhnya secara berkelanjutan.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unib