Cagub Ulu-Ilir

Cik Ben

By Cik Ben
Pemilihan Gubernur Bengkulu tinggal waktu menunggu. Kompetitor tampaknya sudah muncul  dari ulu dan  ilir. Meskipun taktik dan strateginya masih  mengunakan metode ulu. Seperti apa metode ulu itu? gotong royong dengan simbul ‘tengkiu-tengkiu’.

Pertanyaan yang muncul diutak benak pemikir dan penghayal, paling tidak ada tiga tanda tanya. Mulai dari siapakah idealnya Gubernur Bengkulu mendatang? Kedua, apa motivasi para  mendukung? Ketiga, seberapa pentingkah profil atau sosok gubernur itu? 

Disinilah persoalan yang krusial dalam menghadapi perhelatan Pilgub di Provinsi Bengkulu, yang kini terjadi degradasi kebudayaan dan tradisi yang ada. Menjawab pertanyaan pertama, siapakah idealnya Gubernur Bengkulu itu? sosok putra atau putri bangsa yang cerdas dan ‘calak’. Yang peduli dengan budaya, sejarah kedaerahan lokal. Dari mukomuko hingga Kaur. Inilah yang belum tampak dalam sepuluh tahun terakhir ini.  Kenapa cerdas dan calak itu penting? Agar tidak di ‘kerjain’ oleh di Si Ta’un. 

Kedua, para pendukung yang terdiri dari strata akal dan ekonomi, harus sadar dan paham betul akan motivasi dalam mendukung. Bukan karena ikut-ikutan, “setto-setto nasik idak bekuah”. Apa karena ingin pemimpin yang dapat membuat Provinsi Bengkulu ini jadi maju, mengingat giografis dan historisnya. Apa ingin dapat keuntungan dari yang di dukung? Bila jawabnya tidak, maka itu artinya pendukung yang ikhlas tingkatannya setingkat wali, rahib.          

Terakhir, seberapa pentingnya profil atau sosok Gubernur Bengkulu mendatang. Tampaknya pertanyaan seperti ini tidak begitu penting. Apapun latar belakang calon gubernurnya, tidak akan mempengaruhi system yang sudah ada. Mantan koruptor, hampir koruptor dan belum koruptor sama saja, bila tidak mempunyai terobosan atau inovasi yang reformis.

Sekedar mengingatkan, jangan para pemilih, pendukung terkecoh dengan jargon-jangon bohong dan tak mungkin terjadi di Provinsi Bengkulu ini. Carilah dan tetapkan gubernur yang  yang berani mengatakan apa adanya. Jangan yang berani mengatakan sudah terjadi pembangunan. Kenyataannya itu merupakan proses alamiah. Jangan yang berani melontarkan ide akan mengagamiskan negeri ini, padahal negeri ini masih banyak kemaksiatan yang tak diberantas. Jangan pilih yang berani mengatakan akan menginternasionalkan Provinsi Bengkulu, padahal provinsi lain yang lebih maju saja belum bisa mewujudkan itu. Waspada, Cagub yang “Otta Gedang Cirik kerre”.

*Wartawan tinggal di Bengkulu