Submitted by webadmin on 30 May, 2019

AM Hanafi atau Anak Marhaen Hanafi (lahir di Bengkulu, Hindia Belanda, tahun 1918 – meninggal di Paris, Prancis, 2 Maret 2004 pada umur 85/86 tahun) adalah mantan Menteri Urusan Tenaga Rakyat (1957–1960) dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba (1963–1965).

 

Pahlawan Dari Bengkulu yang terlupakan

 

Berjas perlente dan sama perlente nya dengan Bung Karno, itulah gaya AM Hanafi muda. Hanafi menemani BK sejak saat pembuangan di Bengkulu. Ia anak politik BK karena itu nama depan AM ia dapatkan dari BK yang berarti Anak Marhaen.

 

Bung Karno dibuang Balanda ke Bengkulu tahun 1938- 1942. Ada banyak teman BK selama pengasingan. Hasan Din, ayah Fatmawati, adalah teman berdiskusi BK soal agama. Bahkan Hasan Din pernah meminta BK mengajar di sekolah Muhamamdiya di Sukamerindu Bengkulu. Ada Abdul Manaf, ini teman seni BK. Bersama Manaf, BK mendirikan kelompok sandiwara Tonil Monte Carlo. Dan ada anak muda yang terpaut jauh umur dengan BK: AM Hanafi. Ia selalu “ngintil” setiap BK bicara politik.

 

Setelah dibawa BK ke Jakarta, Hanafi tumbuh sebagai pejuang radikal. Ia aktifis Menteng 31, sebuah rumah yang digunakan banyak tokoh pemuda seperti, Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik dan Hanafi senidiri untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Jika bukan Sukarni dan Hanafi tak menculik BK dan Hatta ke Rengas Dengklok pada satu malam sebelum proklamasi, mungkin kita juga tak segera merdeka.

 

Hanafi juga yang mengorganisir pemuda melakukan Rapat raksasa di lapangan Ikada yang dikenal dengan nama Rapat Ikada, 19 September. Ikada yang kini adalah lapangan monas itu diorganisir Hanafi dan pemuda pemuda dari Menteng 31 agar rakyat memberi dukungan kepada BK dan Hatta untuk memimpin negara ini. BK awalnya tak mau menghadiri rapat ini karena sangat berbahaya bagi masyatakat yang datang karena bisa diserang Jepang kapan saja. Adam Malik pun tak suka cara Hanafi mengumpulkan dan mungkin mengorbankan massa. Tapi BK diberitahu Chairul Saleh bahwa AM Hanafi menjamin keselamatan BK. Mendengar ini BK pun tak gentar dan meneriakkan salam nasional “Merdeka”. Tapi ada yang unik dari pidato singkat BK di Ikada, “Kalau cinta Bung Karno dan Bung Hatta, sehabis ini pulanglah,”

 

Sepanjang awal kemerdekaan Hanafi menduduki posisi penting di republik ini. Ia pernah menjadi Menteri Pengerahan Tenaga Rakyat, Anggota Dewan Pertimbanhan Agung, Anggota MPRS, Komite Pembebasan Irian Barat dan Pendiri Badan Musyawarah Besar Angkatan 45.

1963, tiga tahun sebelum PKI memberontak AM Hanafi diminta BK menjadi Dubes di Kuba. Kuba adalah negara sukutu penting BK ketika pemerintahannya condong ke kiri di era itu. Ia hanya ingin Hanafi yang jadi dubes, setelah Marsekal Suryadharma ditolak oleh Fidel Castro. Hanafi sempat menolak ditempatkan di Kuba, karena alasan keluarga. BK sampai memanggil istri Hanafi dan membujuknya, BK tau Hanafi lemah sama bujukan istrinya. “Setahun saya tak mau ketemu BK, supaya tak ditugaskan ke Kuba,” kata Hanafi kepada Majalah Tempo.

 

Rayuan sang istri meluluhkan hati Hanafi. Hanafi menghadap BK di Istana Bogor. Terlihat betapa sumringahnya wajah BK ketika tau Hanafi mau ditempatkan di Kuba. BK berkata, Fidel Castro akan sangat senang jika Hanafi menjadi Dubes RI di Kuba.

 

Fidel Castro memang menyambut hangat Hanafi. Hanafi dibuat macam duta besar yang amat penting di sana. “Saya pernah kaget, ketika garda nasional Kuba masuk ke KBRI di Havana dengan mematikan lampu,” cerita Hanafi. “Saya marah mengapa lampu dimatikan tapi sang pengawal bilang, Mr Ambasador, El Comandante mau berjumpa,”. Begitulah, Castro bercerita ia tak ingin perbincangan dengan Hanafi diketahui banyak orang.

 

Peristiwa G30SPKI meletus, pemerintahan BK berganti ke Jenderal Soeharto. Hanafi diminta pulang, tapi ia menolak karena menganggap pemerintahan Soeharto tidak sah. Soeharto membalas dengan mancabut passport Hanafi. Jadilah Hanafi stateless, tak punya kewarganegaraan. Beruntung Fidel Castro tetap baik dan tetap memberlakukan status diplomat kepada Hanafi. 5 tahun Hanafi dan keluarga dibiayai oleh Castro.

 

Rasa tak enak hati dibiayai oleh Castro membuat Hanafi dengan tabungan tersisa menjadi pelarian politik di Paris. Pemerintahan sosialis Perancis memang banyak menampung exile Indonesia ketika itu. Untuk menghidupi keluarganya Hanafi mendirikan restoran Indonesia “Djakarta - Bali”. Tapi usaha ini tak maju sebab KBRI melarang orang orang Indonesia makan di restorannya. “Mereka bisa dicap komunis, kalau makan di restoran saya,” kata Hanafi. Ia kemudian menjadi pengajar bahasa Indonesia di sekolah dan kampus.

 

2 Maret 2004 di Paris, AM Hanafi meninggal dunia di Paris. Seperti wasiatnya ia minta dimakamkan di Indonesia. Jenazah Hanafi tiba di Indonesia 10 maret dan dikebumilan di TPU Tanah Kusir. Kisah sebagai pendiri republik tapi mati sebagai pelarian politik adalah fragmen kehidupan si Anak Marhaen.

 

Nama AM Hanafi mungkin tak dikenal dalam hafalan sejarah anak anak sekarang. Ia memang tak bergelar pahlawan nasional. Tapi kisah nya sebagai pendiri Asrama Menteng 31, tempat anak muda berkumpul dan mendesak BK segera memerdekakan Indonesia, terpampang jelas di pintu utama gedung yang kini bernama Gedung Juang 45. 

 

Sumber: https://articleapp.co/s/7Zk5ZtZxjYu
Editor: Riki Susanto
 

Testimonial job
Pahlawan Nasional Asal Bengkulu
Testimonial Name
AM Hanafi
Testimonial Avatar
,